cause i’m stupid

 

Author: kikyuzaraaa

Cast : Yoo Seungho, Park Jiyeon, Lee Taemin

Genre : romance, sad, angst

 

*Cerita ini original punyaku, tapi udah pernah diposting dibeberapa blog. aku repost lagi di wp yang ini, yg udah pernah komen, tetep komen lagi ya ^^*

 

 

Baca lebih lanjut

Iklan

my twins sister part 2

author : kikyuzaraaa

cast : jiyeon, jiyoung, jinki, key, minho

genre : romance

-jiyeon pov-

Aku duduk dipinggir taman kota. Saat itu sudah malam dan suasana sepi, hanya ada aku seorang diri.

Aku mengeluarkan handphoneku, mencari nama KEY dikontak lalu memencet tombol call.

“KEY AKU TIDAK MAU TAHU BAGAIMANAPUN CARANYA KAU HARUS BERADA DITAMAN KOTA DALAM 10 MENIT! AKU TIDAK MAU MENUNGGU LEBIH DARI ITU!”. Teriakku begitu key mengangkat telponnya.

“jiyeon, sekarang jam berapa? Dan bisakah kau pelankan suaramu.”. Kata key diujung sana. Bisa kubayangkan wajahnya yg kaget saat mengangkat telponku.

“KITA LATIHAN KARATE SEKARANG JUGA!”. Kataku lalu menutup telepon.

Dalam 15 menit kemudian key datang dengan sepeda motornya. Ia terlihat lemas dan kelelahan.

“apa kau tahu aku tadi ada dimana?? Aku tadi ada disupermarket yang letaknya 30 menit dari sini”. Kata key, lalu ia duduk disampingku. “ada apa??”.

“jangan banyak bicara. Ayo latihan karate”. Kataku lalu berdiri dan menarik tangan key agar ikut berdiri.

“Ya! kau pikir aku tidak mengenalmu. Aku tahu jika kau mendadak menyuruhku menemanimu latihan karate, pasti kau sedang ada masalah”. Kata key sambil menatapku tajam. Tatapannya membuat jantungku berdetak kencang, key.. Aku membutuhkanmu.

“ada masalah apa?”. Tanya key, ia masih terus menatap mataku tajam seperti berusaha mencari jawaban pertanyaannya.

aku hanya diam tidak menjawab.

Lama kami terus bertatapan sampai akhirnya air mataku menetes dan key memelukku.

key tidak bertanya lagi, ia membiarkanku menangis dipelukkannya.ia hanya mengusap rambutku, berusaha menenangkanku.

~~~~~

-jinki pov-

Aku bercermin, melihat diriku yang saat itu berumur 8 tahun. Tersenyum pada pantulan tubuhku yg masih kecil dan agak sedikit gembul .

“jinki, ayo makan. Ada ayam goreng kesukaanmu”. Panggil ummaku dari dapur.

Dengan semangat aku berlari menuju dapur. meja makan sudah penuh saat aku sampai dapur. Ada appa yg duduk disamping umma sambil membaca koran paginya, ada kedua adik perempuan kembarku jiyeon dan jiyoung yang duduk berhadapan, aku tersenyum melihat mereka berdua. saat itu mereka mengenakan gaun berwarna pink yg sama dan rambut keduanya sama2 diikat dua. Hari ini adalah hari ulang tahun mereka yang keempat.

“oppa, mana kado untukku?”. Kata jiyoung dengan suara cadel khas anak kecil padaku.

Aku tersenyum dan mendekat ke arah jiyoung, lalu kukecup keningnya.

“kadonya kecupan selamat pagi saja ya”. Kataku. lalu pandanganku beralih pada jiyeon yg sedari tadi diam dan hanya melihat kearah makanan dihadapannya.

“jiyeonie.. Mau kecupan juga?”. tanyaku sambil mendekat kearah jiyeon.

Jiyeon menatapku, lalu menggeleng tanda tidak mau.

“lalu kau mau apa?”. Tanyaku lagi.

“aku mau anak kucing”. Katanya pelan seakan takut mengatakannya, lalu jiyeon melirik ke arah appa.

“jiyeon sayang, nanti kalau sudah besar umma belikan anak kucing ya”. Kata umma sambil membelai rambut jiyeon.

“sekarang aku sudah besar”. Kata jiyeon lagi, kali ini dengan suara lantang.

“benarkah sudah besar?? Coba appa tes. 2 + 2 berapa?”. Appa akhirnya mengeluarkan suara.

Pertanyaan appa dijawab dijiyeon dgn lantang ”4!”.

Appa tersenyum, sebenarnya appa sudah tahu kemampuan jiyeon. tapi appa terus menguji jiyeon dengan pertanyaan2 lain dan jiyeon dengan mudah dapat menjawabnya.

Akhirnya appa menyerah, dan berkata ”anak kita sudah besar, biarkan saja dia memelihara anak kucing”. Kata appa pada umma.

“tapi siapa yang akan membersihkan kotorannya?”. Tanya umma.

“aku bisa membantu jiyeon membersihkan kotoran anak kucing itu, iya kan??”. Kata jiyoung semangat, diikuti anggukan setuju jiyeon.

“baiklah, besok aku belikan anak kucing. Tapi kalian harus janji akan merawatnya dgn baik”. Kata umma.

“ne”. Kata jiyeon semangat.

Aku tersenyum melihat kejadian itu.

Aku seakan masuk kelorong waktu, seperti tersedot pada sebuah lubang dan tiba2 aku sudah besar.

aku berdiri didalam ruang keluarga. Ada jiyeon dan jiyoung sedang menggambar disana. Lalu aku melihat umma keluar dari kamarnya sambil menangis.

“umma kenapa?”. Tanyaku.

“appamu.. “. umma berbicara sambil sesenggukan.”dia menikah dgn perempuan lain”. Tangisan umma makin deras.

Jiyeon dan jiyoung ikut memperhatikan umma. Meskipun saat itu mereka baru berumur 6 tahun tp mereka pasti sudah mengerti perkataan umma tadi karena kulihat jiyoung mulai menangis sementara jiyeon hanya diam.

lalu aku mendekati umma dan memeluknya, mencoba menenangkannya. Jiyeon dan jiyoung jg ikut memeluk umma. Saat itu kami tahu bahwa appa sudah bukan lagi milik kami.

Lalu sensasi lorong waktu kurasakan lagi.kali ini aku dibawa ke kejadian 3 tahun yang lalu.

Aku berada dikamarku sambil mendengarkan musik keras2, lalu samar2 aku mendengar keributan diluar kamar.

“kalau umma pergi dari rumah ini, aku tidak akan pernah mau bertemu dengan umma lagi”. Suara jiyeon terdengar samar2. Aku mengecilkan volume mp3ku. lalu bergegas keluar kamar.

Kulihat diruang tamu jiyoung sedang memeluk umma seperti menahannya agar tidak pergi. Sedangkan jiyeon berdiri didepan umma dengan wajah penuh amarah.

“ada apa?”. Tanyaku bingung.

“jinki, jaga kedua adikmu ya. Kau sudah besar. Umma percaya padamu”. Kata umma sambil menangis.

“umma mau kemana?”. Tanyaku melirik koper besar yang ada ditangan umma.

“dia mau meninggalkan kita demi laki2 yang akan menjadi suaminya!”. Kata jiyeon keras padaku. Jiyeon sangat marah sampai2 menyebut umma dengan ‘dia’ .

“kau tidak perlu khawatir, appa tetap menanggung seluruh biaya hidup kalian. Jinki kau harus jaga kedua adikmu”. Kata umma lagi, lalu umma berusaha melepaskan pelukan jiyoung. Jiyoung yg sudah lemas karena banyak menangis tidak bisa menahan umma lagi. Umma pergi keluar rumah, diikuti tangisan jiyoung yang semakin keras.

“ummaaaaa”. Panggil jiyoung tapi umma tidak mendengarkan. Ia tetap pergi meninggalkan kami.

“oppa kau sudah bangun?”.suara jiyoung membangunkanku. Aku terbangun dari tidurku. bantalku basah karna air mata, semalam aku bermimpi tentang kejadian dimasa lalu. Kejadian yg merubah hidupku dan adik2ku.

“ne!”. Jawabku.

“cepat mandi. Kau kan harus kuliah”.

Segera kuhapus sisa2 air mataku dan beranjak turun dari kasur.

~~~~~

-jiyoung pov-

“taemin! Tidak perlu terburu2”. Kataku sambil mengejar taemin dengan tumpukan buku ditanganku.

“penjaga perpustakaan bilang sebentar lagi akan tutup”. Kata taemin sambil terus berjalan cepat menuju perpustakaan.

”bruuukkk”. Aku menabrak seseorang, aku dan semua buku ditanganku terjatuh.

”are u okey?”. kata suara orang yg menabrakku. Suaranya terdengar berat tapi menenangkan. Aku mendongak menatap si pemilik suara.

Dihadapanku berdiri seorang pemuda dengan wajah sangat tampan, ia mempunyai mata yg besar tapi wajahnya terlihat ramah.

“ne”. Jawabku kaku.

“bisa berdiri?”. Tanyanya lagi, ia mengulurkan tangannya membantuku berdiri.

“gumawo”. Kataku pelan.pemuda itu membantuku mengambil buku2ku yg berserakan.

“sekali lagi gumawo”. Kataku lagi. Saat itu aku merasa seperti orang terbodoh didunia. Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku saat pemuda itu menatapku.

“mianhae membuatmu terjatuh”. Katanya sambil tersenyum. mungkin saja aku bisa pingsan karna senyumannya kalau taemin tidak datang dan berteriak padaku.

“jiyoung! Sebentar lagi perpustakaan tutup!”. Teriak taemin dari jauh.

Dengan enggan aku melangkahkan kaki menjauh dari pemuda itu.

“jiyoung..”. Panggil pemuda itu sebelum aku jauh.hampir saja aku terpeleset karena kaget mendengar ia memanggil namaku. “sampai bertemu lagi”. pemuda itu lagi2 memberikan senyuman mautnya.

~~~~~

-key pov-

aku dan jiyeon baru selesai latihan karate. hari sudah sore, namun kami masih berada disekolah.

“aku pernah cerita tentang sepupuku minho kan??”. Kataku pada jiyeon.

“hmmp”. Jawab jiyeon sekenanya, aku tidak tersinggung karna aku tahu jiyeon masih memikirkan kejadian kemarin. Aku tahu ia masih merindukan ummanya, maka dari itu aku berusaha menghiburnya.

“dia akan datang kesini. Akan aku kenalkan padamu. Kau pasti menyukainya”. Kataku bersemangat. Tapi jiyeon tidak menanggapi, ia malah sibuk membereskan isi ranselnya.

“itu dia!”. Kata ku saat melihat minho datang dari kejauhan.

Minho berjalan mendekat kearah kami.

“oh, korea panas sekali!”. Katanya sambil mengelap keringat.

“huh, gayamu itu..”. Kataku sambil meninju lengan minho. Kebiasaan yg sering kulakukan jika baru bertemu minho.

“aku pulang duluan”. Kata jiyeon padaku tanpa memperdulikan kedatangan minho.

“hey, tunggu dulu. Kenalkan ini sepupuku minho, dan minho ini sahabatku yang paling jutek jiyeon”.

minho mengulurkan tangannya pada jiyeon yg dengan enggan disambut oleh jiyeon.

“nice to meet you”. kata minho pada jiyeon.

Jiyeon cepat2 menarik tangannya.

“sudah ya, aku pulang”. Kata jiyeon sambil berjalan pergi.

Kuperhatikan minho terus memperhatikan jiyeon yg berjalan semakin menjauh.

“dia sangat menarik”. Katanya sambil terus memperhatikan jiyeon, sampai bayangannya hilang dibelokan sekolah.

~~~~~

-jiyeon pov-

Baru saja aku duduk dipinggir ranjang kamarku saat handphoneku berdering.

KEY CALLING

“yeobosseo..”. Jawabku mengangkat telpon key dengan nada malas.

“jiyeon, kau tahu kan lusa hari ulang tahunku. Aku berniat membuat pesta kecil untuk merayakannya. Kau harus mengajak jiyoung kepestaku ini”. kata key terdengar bersemangat. ”tenang saja minho juga akan datang”. Katanya lagi.

Aku memutar bola mataku, jengkel dengan ucapan key.

”minho sepertinya menyukaimu”. Kata key lagi.

Aku hanya diam, malas meladeni obrolan key. Karena yang aku inginkan bukan minho tapi key. Mengapa key tidak pernah menyadari itu??

“jiyeon-aa kau masih disana??”. Tanyanya diujung telpon karna aku lama tidak menjawab.

“ne”. Jawabku singkat.

“jadi kau akan membujuk jiyoung agar mau datang kepestaku??jinjja??”. Tanya key bersemangat.

“hmmp”. Aku malas menjawab. Karna sesungguhnya aku tidak ingin jiyoung dekat2 dengan key.

“gumawo jiyeon-aa, kau memang sahabatku”. ucapan key membuat hatiku mencelos. Kalau bisa aku ingin berteriak ‘aku mau kau menganggapku lebih dari sahabat key!’. Tapi sepertinya sia2, dihati key hanya ada jiyoung.

~~~~~

-jiyoung pov-

Bayangan kejadian tadi sore disekolah kembali berkelebat dipikiranku. Seorang pemuda menabrakku, tersenyum padaku. Entah mengapa dalam sekejap saja pemuda itu telah berhasil mencuri hatiku.

“jiyoung-aa gwaechana??”. Suara jiyeon mengagetkanku, menyadarkanku dari lamunanku . Tanpa kusadari jiyeon sudah ada didalam kamarku, dan sekarang ia menatapku dengan tatapan aneh.

“mwo??”. Tanyaku bingung.

“hmmp, jangan membohongiku. aku tahu kau sedang jatuh cinta. Katakan padaku siapa orangnya?”. Jiyeon terus menatapku dengan tatapan menyelidik.

“bukan urusanmu”. Kataku sebal karna jiyeon terus menggodaku.

“ya sudah, aku juga tidak peduli”. jiyeon berkata seakan dia tidak peduli, padahal tadi dia terlihat penasaran. “lusa key mengadakan pesta ulang tahun dan dia mengundangmu”. Katanya tanpa menatapku. Aku tahu yang ada dipikirannya. Ia pasti cemburu karna sudah lama jiyeon menyukai key sementara aku tahu key menyukaiku.

“kau mau aku datang??”. Tanyaku pada jiyeon.

“aku tidak punya pilihan. key akan kecewa jika kau tidak datang, dan aku tidak ingin dia merasa kecewa”.

“kenapa kau tidak jujur saja sih pada key kalau kau menyukainya? jadi kau tidak menyakiti hatimu terus menerus”.

“aku tidak bisa. Dan itu urusanku, jadi jangan ikut campur!”. Kata jiyeon ketus. “persiapkan dirimu untuk datang kepestanya”. Kata jiyeon lagi sambil berjalan keluar dari kamarku.

~~~~~

-jiyeon pov-

hari ulang tahun key tiba, tadi siang aku dan jiyoung membeli kado untuk key. Aku membeli sebuah kaos berwarna pink untuk key, warna kesukaan key. Sedangkan jiyoung membeli sebuah novel lawas yg terkenal untuk key. padahal setahuku key tidak suka membaca.

“biar saja, nanti juga dia pasti akan membacanya”. Kata jiyoung saat kuberitahu key tidak suka membaca.

Malamnya kami bersiap2 kepesta ulang tahun key. Jinki oppa mengantar kami dengan mobilnya.

kami mengenakan gaun dengan warna berbeda. Aku memakai warna pink yang sengaja kupakai dengan harapan key akan menyukainya, sementara jiyoung memakai gaun berwarna biru muda.

kami sampai dirumah key. Suasananya ramai, dan aku kesulitan mencari key.

“aku cari key dulu”. Kataku pada jiyoung.

Lalu aku meninggalkan jiyoung, mencari sosok key.

~~~~~

-jiyoung pov-

“kita bertemu lagi. Inikah yang disebut takdir??”. Suara berat laki2 mengagetkanku. “jiyoung, apa kabar?”. Kata suara itu lagi, spontan membuatku mencari sumber suara.

Duniaku terasa berhenti saat aku mendapati siapa pemilik suara itu, dia pangeranku, pemuda yang pernah menabrakku.

“kau??”. Tanyaku bingung.

“apa kabar??”. Katanya sambil mengulurkan tangan. “kupikir kita belum berkenalan kan?? Namaku minho”. Kata pemuda itu.

Aku membalas uluran tangannya, berharap ia tidak menyadari betapa dinginnya tanganku karna gugup.

“jiyoung”. Kataku sambil tersenyum kaku.

“aku tahu namamu, temanmu memanggil namamu kemarin saat kita bertabrakan”. Katanya sambil tersenyum. Senyuman yang berhasil membuatku sesak napas.

“kau kenal dengan key??”. Kataku saat menyadari bahwa kami sedang ada dipesta ultah key.

“tentu saja, dia sepupuku”.

“kalian sudah saling kenal??”. Key tiba2 sudah berdiri disebelahku disusul jiyeon dibelakang key.

“baru berkenalan”. Kataku.

“jiyeon, apa kabar?? Wah, kau cantik sekali!”. Kata minho pada jiyeon, membuatku menatap jiyeon sebal. Jiyeon sendiri tidak menjawab pertanyaan minho.

“tapi kau pasti tidak tahu kalau jiyeon dan jiyoung saudara kembar??”. Kata key pada minho.

“kembar???tapi kok..”.

“berbeda? Ya kami memang tidak mirip”. Kata jiyeon menyelesaikan pertanyaan minho.

“tapi kami memang kembar”. Kataku sambil tersenyum pada minho.

“oh, jadi saudara kembar jiyeon yang kau sukai itu jiyoung??”. Tanya minho pada key. Membuat mata key melebar, memelototi minho.

“yayaya.. Aku mengerti. Haha..”.minho tertawa lebar.

lalu aku teringat akan kado untuk key yang kubawa ditanganku . ”oh ya, ini untukmu”. Kataku pada key sambil menyerahkan kado.

“gumawo, padahal tidak usah repot2. Kau datang saja aku sudah sangat senang”. kata key padaku sambil tersenyum malu.

~~~~~

-jinki pov-

Aku memperhatikan kedua adik perempuanku. memang aku terbiasa melihat mereka sarapan bersama dalam diam. Tapi kali ini ada yang lain, aku melihat jiyoung dan jiyeon saling melirik dan memberi tatapan sengit satu sama lain.

“gwaechana??”. Tanyaku pada kedua adik kembarku itu.

Mereka berdua sama2 diam, tidak ada yg menjawab pertanyaanku. “ayolah, kalian berdua ini jangan bertengkar terus”.

jiyeon melirikku, ”siapa yang bertengkar?”. Katanya ketus.

“kami baik2 saja. Seperti tidak pernah kenal kami saja”. Kata jiyeon lagi.

“aku tau dari dulu kalian memang tidak akur satu sama lain, tp aku merasakan atmosfer berbeda kali ini??ada apa?”.

“tanya dia!”. Kata jiyeon melirik jiyoung sebal.

“mwo? Kau juga salah!”. Kata jiyoung tidak mau kalah.

“sudahlah.. Jangan bertengkar!”. Kataku tegas. “kalian ini saudara kembar, tdk boleh bertengkar”.

Dan akhirnya aku meninggalkan mereka berdua.membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.

~~~~~

-jiyeon pov-

Lucu sekali, dua saudara kembar mencintai laki2 yg salah. Aku mencintai key yang mencintai jiyoung, sementara jiyoung mencintai minho yg menurut key mencintaiku. Apa yang salah dari kami berdua?mengapa masalah diantara kami tidak pernah selesai.

“lucu ya?kenapa sih kita harus begini?”. Kataku saat sarapan, jinki oppa sudah menyerah pada kami dan meninggalkan kami berdua dimeja makan.

kulihat jiyoung mengangkat bahu dan tetap diam. Tipikal jiyoung, selalu menangis dan diam dalam menyelesaikan masalahnya.

“kau benar2 menyukai minho?”. Tanyaku. Itu jelas pertanyaan konyol. Karna aku jelas tahu jawabnya.

“Apa perlu kuperjelas?”. Tanya jiyoung pelan tanpa menatapku.

“huh! Sudahlah. Aku pusing”. Kataku lalu bangkit dari tempat duduk.

“seandainya wajah kita mirip, kita mungkin bisa bertukar tempat agar bisa memiliki laki2 yg kita cintai”. Kata jiyoung, kali ini ia menatapku tanpa ekspresi.

“yah, sayangnya kita bukan kembar identik. Hanya takdir menyatukan kita dalam satu rahim diwaktu bersamaan”. Kataku pada jiyeon sebelum berjalan meninggalkannya sendirian.

~~~~~

To be continue

Dont forget leave your comment ^^

My twins sister

My twins sister

onew,jiyeon,jiyoung fanfic

 

 

Author : kikyuzaraaa

Cast : Lee jinki/onew , Park Jiyeon, Kang Jiyoung, Key, Choi minho, Lee taemin, Kim jonghyun.

Genre : romance

main character

Onew/Jinki

Laki2 yg tampan, merupakan seorang kakak yg sangat bertanggung jwb pada kedua adik kembarnya Jiyeon dan Jiyoung.

Tp Jinki sangat posesiv pd kedua adiknya.

Choi Minho

Cowo kaya raya yg berparas tampan. Sangat terlihat sempurna. Tp dibalik semua kesempurnaanya itu minho mempunyai rahasia yg ia tdk ingin diketahui oleh org lain.

Kim Kibum/Key

Seorang cowo dgn tampilan sederhana tp sangat keren. Key tumbuh dgn belaian kasih sayang dari umma dan neneknya, maka dari itu key sgt lembut dan penuh kasih sayang pada semua orang.

Lee Taemin

Cowo imut yg lugu . Dia sebenarnya sangat perhatian pd org lain, tp sayangnya taemin terlihat manja dan tdk bisa mandiri. Taemin adalah sasaran empuk bulying teman2nya.

Jonghyun

terkenal sbg laki2 yg kasar dan gampang marah.ia sangat pencemburu.

Jiyeon

Adik Jinki, saudara kembar Jiyoung.

Jiyeon seorang gadis cantik namun berani dan jagoan karate disekolahnya.IQ nya diatas rata2 meskipun ia malas belajar. jiyeon cuek pd org lain dan terkesan jutek. Namun dibalik semua itu dia sangat menyayangi adik kembarnya Jiyoung.

Jiyoung

Pendiam ,cantik, dan pintar. Itulah pendapat org tentang jiyoung. Dia bungsu dari 3 bersaudara dan mempunyai kakak kembar.meskipun tdk mempunyai IQ setinggi Jiyeon, dgn kerja kerasnya belajar ia berhasil menyaingi Jiyeon disekolah. Jiyoung sgt perhatian pd org lain, selain itu jiyoung sgt jago dalam bernyanyi.

~~~~~

-jinki pov-

Matahari pagi menerobos celah jendela kamarku, membuat silau dimata sipitku. Aku mengerjapkan mataku yg baru saja terbuka dari tidur malam yg cukup panjang. Dengan malas aku menggerakan tubuhku kekamar mandi.

Selesai mandi, seperti biasa aku bergegas turun untuk sarapan sebelum mengantar kedua adikku kesekolah.

“jiyoung mana??”. Tanyaku pada jiyeon adikku saat tiba diruang makan.

“seperti biasa, sudah berangkat dari subuh. Dia bilang ada buku yg harus dia cari diperpustakaan dan tdk bisa ditunda”. Jawab jiyeon sambil mengoleskan selai pada rotinya.

jiyoung memang berbeda dari jiyeon. Sifat mereka sgt bertolak belakang namun saling melengkapi.jiyoung sangat rajin, sedangkan jiyeon biasa saja tapi kemampuan mereka sama dalam pelajaran disekolah.itulah kelebihan jiyeon, meskipun ia tdk serajin jiyoung, tp dgn kemampuan IQnya yg tinggi kemampuan mereka jd sejajar.

~~~~~

-jiyoung pov-

Aku baru saja mengembalikan buku yg baru kubaca ke tempat semula di lemari buku perpustakaan saat seseorang menutup mataku dgn tangannya.

“tebak siapa??”. Kata suara yg sudah sangat kukenal.

“kau terlambat setengah jam lee taemin!”. Kataku, lalu si pemilik tangan menarik tangannya dari mataku.

“kenapa kau bisa tau ini aku?”. Tanya taemin. Aku berbalik, menatap wajah taemin.

“aku bahkan bisa merasakan kehadiranmu”. Kataku sambil tertawa.

~~~~~

-author pov-

jiyeon dan jiyoung selain satu sekolah, mereka jg satu kelas. Tp mereka tdk duduk sebangku. Jiyeon duduk dgn Key teman satu club karatenya, sementara jiyoung duduk dgn taemin. Org2 yg mengenal mereka merasa heran, jiyoung lebih seperti kembaran taemin daripada kembaran jiyeon. Kemana2 jiyoung selalu bersama taemin, mereka sudah saling kenal sejak duduk dibangku sekolah dasar.

Sementara itu jiyeon terlalu sibuk dgn club karatenya, diwaktu luang ia akan pergi bersama key dan teman club karate lainnya.

“tugas makalah kimia kemarin sudahku nilai, dan makalah terbaik adalah makalah milik Jiyoung”. Kata guru kimia. seluruh isi kelas memberikan tepuk tangannya untuk jiyoung.

“Jiyeon! Mengapa kau tidak mengumpulkan tugas makalah?”. Tanya guru kimia galak pada jiyeon.

Jiyeon yg tadi sdg bercanda dgn key langsung menatap guru kimianya serius.

“mianhae, kemarin aku lupa”. Kata jiyeon sambil menggaruk kepalanya yg tdk gatal.

Sebenarnya jiyeon tdk lupa, karna minggu kemarin jiyoung sudah mengingatkannya tapi jiyeon malas mengerjakannya.

“bolehkah aku mempresentasikan saja makalahku???”. Tanya jiyeon akhirnya. Meskipun ia malas, tp tetap ia tdk mau dicap anak bodoh.

“silakan saja”. Kata guru kimia.

Jiyeon maju kedepan. Mulai menulis apa yg dibutuhkannya untuk presentasi. Setelah itu, dgn lancar jiyeon berbicara didepan kelas.

Semua kelas sebenarnya sudah tau kemampuan jiyeon. Dia memang malas, tp dia jg punya IQ tertinggi diantara mereka. Maka tdk heran kalau jiyeon bisa mempresentasikan tugas kimianya tanpa makalah.

“tugas makalah yg terbaik memang jiyoung, tp dalam hal penyampaian materi jiyeon yg terbaik”. Kata guru kimia setelah jiyeon selesai presentasi.

~~~~~

-jiyeon pov-

Aku kembali ketempat dudukku setelah selesai mempresentasikan tugas kimiaku. Aku melirik sedikit ke arah jiyoung. Bisa kurasakan dia kesal padaku. Sebenarnya tanpa aku harus melirik aku sudah bisa merasa kan apa yg sedang dirasakan hatinya.

Kami memang kembar, tp kami berbeda. Wajah kami tdk mirip seperti layaknya anak kembar. Jiyoung lebih mirip umma sedangkan aku mirip appa. Tp kami tetaplah kembar, kami pernah berada dalam satu rahim bersama. Ada ikatan yg mengikat kami yg bisa kami rasakan. Aku bisa merasakan setiap perubahan emosi dari saudara kembarku, begitu jg sebaliknya jiyoung bisa membaca suasana hatiku. Itulah sebabnya kami sulit berbohong satu sama lain. Bahkan kami bisa saling tahu saudara kembar kami sedang jatuh cinta pada siapa hanya dari suasana hatinya.

“good job friend!”kata key sambil mengacungkan kedua jempol tangannya saat aku baru saja duduk disampingnya.

Aku hanya membalasnya dgn senyuman.

Aku sgt menyukai key. Dialah salah satu laki2 yg kuanggap baik setelah kakak laki2ku. Aku sudah lama tdk percaya pada laki2, karena appaku yg berselingkuh sampai akhirnya bercerai dgn umma. Tp key datang dalam hidupku, kami saling mengenal sejak dibangku SMA. Kami sgt dekat karna kami berada dlm satu club karate yg sama.

Sudah lama aku jatuh cinta pada key. Key sangat penyayang, dia menyayangiku tp hanya selayaknya sahabat. Kadang dia terlihat seperti ummaku, caranya memperlakukanku sangat lembut seperti umma. Itulah mengapa aku menyukainya, karena dia berbeda dari laki2 lainnya.

Tapi aku tahu key hanya menganggapku sbg sahabatnya. key mengaku bahwa ia mencintai adik kembarku jiyoung.

“hey, adikmu itu makin cantik ya. Apa dia sudah punya pacar?”. bisik key padaku. Aku langsung melirik kearah jiyoung yg sdg mengobrol dgn taemin.

“harus berapa kali kubilang, jiyoung itu tdk suka laki2 lain kecuali kakakku. kalau ada yg dia suka selain jinki oppa, tentu saja buku pelajaran”.kataku dgn penekanan pd setiap kata.

“kau tau kan aku sudah lama menyukainya. Apa dia tidak mungkin menyukaiku??”.

Aku mengangkat bahu tanda tak tahu. Padahal jelas aku tahu isi hati jiyoung, sebagai saudara kembarnya ikatan hati kami sgt kuat. Aku tahu jiyoung hanya menganggap key teman biasa. Dan aku jg tahu jiyoung belum pernah jatuh cinta.laki2 yg ada dihatinya saat ini adalah jinki oppa dan tentu saja appa. Aku heran mengapa jiyoung masih mau menganggap si pembohong itu sebagai appanya. Padahal aku dan jinki oppa sudah sgt membencinya. Jiyoung memang aneh, dia bahkan masih sering menghubungi umma yg jelas sudah meninggalkan kami anak2nya untuk menikah dgn laki2 lain.

~~~

-jiyoung pov-

Aku mendapati jiyeon sedang melirik kearahku, lalu ia melengos dan kembali mengobrol dgn teman sebangkunya key. Sejujurnya, aku sgt kesal padanya. Dia selalu bisa melebihiku tanpa usaha keras. Sedangkan aku, untuk bisa menjadi pintar harus belajar mati2an.

“sepulang sekolah kita latihan nyanyi ya”. Kata taemin, mengalihkan perhatianku dari jiyeon.

“mwo?? Untuk apa??”.

“kau lupa ya?guru kesenian menugaskan kita untuk tampil diacara pentas seni sekolah. Aku bertugas mengiringimu bernyanyi dengan piano.”

“oke, tp keperpustakaan dulu ya. Ada yang harus aku cari”. kataku.

Taemin mengangguk setuju.

~~~~~

-jiyeon pov-

“yeonie.. Menurutmu jiyoung senang tdk jika kuundang ke pesta ulang tahunku?”. Tanya key padaku saat kami baru selesai latihan karate.

“hmmp, entahlah”. Jawabku cuek.

“kau harus membantuku. Kau harus membawa jiyoung ke pesta ultahku”.

“yayaya..baiklah”. Jawabku sekenanya.

“nanti kau jg akan kuperkenalkan dgn minho sepupuku. Dia baru pulang dari amrik dan akan melanjutkan sekolahnya disini. Kau pasti akan menyukainya”. Kata key dgn senyum lebar.

Dalam hati aku merasa sebal, karna laki2 yg sangat kuinginkan adalah KEY bukan org lain.

‘deg..’ aku merasakan getaran ketakutan dalam hatiku. Tidak.. Ini bukan aku yg merasakan. Ini jiyoung.. Pasti terjadi sesuatu padanya sampai rasa takutnya sekuat ini.

“key.. Aku harus pergi. Sampai ketemu besok”. Kataku sambil menyambar tasku lalu berlari mencari jiyoung.

Tempat pertama yg kudatangi adalah perpustakaan. Tp aku tdk melihat jiyoung disana.

“kau lihat jiyoung?”. Tanyaku pd salah seorang murid perempuan disana.

“dia dan taemin td menuju ruang musik”. Katanya.

Tanpa pikir panjang aku berlari keruang musik.

~~~~~

-jiyoung pov-

Aku dan taemin baru saja memulai latihan kami. Taemin memainkan pianonya dan aku mulai bernyanyi.

Tiba2 pintu ruang musik terbuka.

Jonghyun, seorang murid yg terkenal kasar masuk ke dalam ruang musik.

“kau..”. Katanya sambil menunjuk kearah taemin. “minggir!”. ia membentak taemin yg duduk dibangku didepan piano .

“kami sedang latihan!”. Kataku agak berteriak walaupun sebenarnya aku takut berhadapan dgn jonghyun.

“sudah kubilang minggir”. Jonghyun mencengkram kerah seragam taemin. Lalu mendorongnya sampai menabrak kursi, taemin meringis kesakitan.

“jangan kasar begitu!”. Kataku berusaha melawan rasa takutku untuk melawan jonghyun. “kalau kau mau latian disini, kau kan bisa bilang baik2”. Aku memberanikan diri menatap mata jonghyun yg saat itu melotot menyeramkan.

“kau gadis cantik. Berani melawanku ya??”. Katanya dgn senyuman menyeramkan. Jonghyun mendekat kearahku, lalu memegang pipiku. Aku berusaha menghindar dgn mundur. Tp dibelakangku hanya tembok. aku sgt ketakutan, aku melirik kearah taemin yg sedang menangis. Taemin benar2 tdk bisa diandalkan untuk menolongku.

“ternyata kau gadis yg penurut ya”. Kata jonghyun. Ia mengusap rambutku, lalu ia mendekatkan bibirnya ke bibirku.

“Lepaskan aku”. Aku memberontak. Tp jonghyun terus berusaha menciumku.

Lalu detik kemudian kudengar suara pintu dibuka.

“JANGAN SENTUH SAUDARA KEMBARKU!!!!!”. Teriak si pendatang baru yang aku tahu adalah jiyeon.

jiyeon menarik jonghyun menjauh dariku. Lalu meninju wajahnya, jonghyun tdk bisa melawan karna ia tahu kemampuan karate jiyeon. Jonghyun berusaha berdiri, lalu lari keluar ruang musik.

“gwaechana??”. Tanya jiyeon, ia mendekat kearahku yg masih meringkuk ketakutan.

“ne”. Jawabku pelan.

“sudahlah, ayo pulang”. jiyeon menggandeng tanganku. Aku bisa merasakan sifat kakak dalam diri jiyeon saat ini.

Aku melirik kearah taemin. Membantu taemin bangun.

“mianhae, aku td tidak menolongmu”. Kata taemin, ia masih menangis. Aku tersenyum lalu membelai rambut taemin lembut . Aku tau taemin jg masih ketakutan.

“kau bisa telpon ibumu untuk menjemputmu skrg?”. Tanyaku.

Taemin mengangguk, lalu menelpon ibunya.

~~~~~

-jiyeon pov-

Aku masih menggandeng tangan jiyoung. masih bisa kurasakan ketakutan dalam diri jiyoung.

“ayo pulang”. Kataku ,taemin sudah pulang dgn ibunya.

jiyoung menggeleng, “aku mau kerumah umma”. Katanya.

“bodoh, buat apa kesana??”. Kataku agak kesal setiap mendengar jiyoung menyebut umma.

“aku kangen umma”. Kata jiyoung seakan mau menangis.

Aku menghela napas kesal, akhirnya menyerah dan mengantar jiyoung yg masih ketakutan ke tempat umma.

Rumah umma memang tdk jauh dari sekolah, tp aku sendiri baru satu kali datang kesana. Itu pun terpaksa karna harus menjemput jiyoung.

Kami sampai dirumah umma. jiyoung langsung masuk kekamar umma dan umma langsung memeluknya.

Aku yg tdk ingin bertemu dgn umma hanya menunggu diluar.

“jiyeon-aa umma ingin bertemu”. Kata jiyoung menyusulku keluar rumah.

“untuk apa??”. Tanyaku ketus.

“umma kangen padamu”.

“tp aku tidak kangen pada umma”. Jawabku tanpa melihat kearah jiyoung.

Lalu jiyoung masuk lg kedalam rumah. Aku bisa mendengar percakapan mereka didalam.

“jiyeon mana?”. Suara umma masih terdengar seperti dulu.

“dia bilang ingin diluar saja. Angin diluar sangat sejuk katanya”. Jiyoung berusaha berbohong untuk membuat hati umma senang. Aku tertawa miris mendengarnya. Untuk apa jiyoung berbohong pd perempuan yg tdk punya hati itu.

“kau mau makan apa sayang??umma akan masakan apapun untukmu”. Aku mendengar suara umma yg penuh kasih sayang pd jiyoung. Entah mengapa air mataku menetes. aku merasa kangen pada hari2ku dulu bersama umma. Bersama umma dan appa yg hidup akur serumah.

Tapi semua sudah berubah sekarang. Appa berselingkuh dan menceraikan umma. Sedangkan umma yg seharusnya mengasuh kami malah menikah dgn laki2 lain yg tidak bisa menerima kehadiran kami. Oleh karna itu umma pergi meninggalkan kami demi suami barunya. Tp dari cerita jiyoung, aku tahu umma kesepian. Suaminya lebih sering berada dikantor ketimbang dirumah. Makanya jiyoung sering datang kemari untuk menemani umma.

~~~~~

-jiyoung pov-

Hari sudah malam saat aku sampai dirumah dgn jiyeon. kami baru berkunjung kerumah umma. Aku dapat merasakan jiyeon masih sedih karna pertemuan dengan umma tadi. Aku tahu dalam lubuk hatinya ia sangat merindukan umma, tp ia selalu berbohong dan menjauh dari umma.

“aku pergi dulu!”. kata jiyeon tanpa melihat kearahku, ia berjalan keluar pintu.

“pergi lagi?? Kmana??”. Tanyaku heran, padahal kami baru sampai rumah.

“jgn cerewet, bilang pada jinki oppa aku latian karate”. Kata jiyeon sambil berlalu pergi.

Aku hanya menghela napas melihat tingkah jiyeon. Ia pasti ingin melampiaskan kesedihannya dengan latian karate.

Aku masuk kedalam kamar. Baru ingin membuka pakaian, saat kudengar pintu kamar diketuk.

“youngie.. Sudah makan??”. suara jinki oppa terdengar dari balik pintu.

“sudah”. Jawabku tanpa membuka pintu.

“mana jiyeon??”. Tanya jinki oppa lagi.

“latian karate”.

“ada masalah???”. Suara jinki oppa terdengar curiga. Jinki oppa memang sgt mengenal kami. Ia tahu jika jiyeon mendadak pergi dimalam hari dgn alasan latihan karate pasti ada yg tdk beres.

aku membuka pintu kamar. jinki oppa berdiri didepan pintu kamarku, memperhatikanku dgn seksama.

“ada masalah???”. Ulangnya lagi.

Aku menceritakan apa yg terjadi padaku hari ini, dari mulai kejadian diruang musik sampai jiyeon dan aku berkunjung ke rumah umma.

“apa perlu kuhajar laki2 bernama kim jonghyun itu??”. Tanya jinki oppa kesal, setelah aku selesai bercerita.

Aku menggelengkan kepala, tanda tdk setuju. “annio, jangan! Jiyeon sudah memberinya pelajaran”. Kataku sebelum jinki oppa benar2 berniat menghajar jonghyun. Jinki oppa yg biasanya penuh dengan kasih sayang jika sedang dalam keadaan kesal bisa berubah menjadi sangat menyeramkan. Apalagi jinki oppa juga sama seperti jiyeon, jago karate.

“kamu ini jgn mau direndahkan laki2! Harus bisa melawan”. jinki oppa mulai memberi nasihat padaku.

“sepertinya kau perlu belajar karate”. Kata jinki oppa akhirnya.

“aku tidak suka kekerasan”. Kataku berkata sejujurnya. Aku memang tdk belajar karate karna aku tdk suka kekerasan.

“hanya untuk melindungi diri sendiri. Apa salahnya??”. Jinki oppa terus membujukku. Tapi aku tetap menolak.

“lalu untuk apa td kau mengunjungi umma??? Dan kenapa harus dgn jiyeon?”. Jinki oppa mengganti topik.

“jiyeon sebenarnya hanya menemaniku, aku td masih sangat ketakutan setelah kejadian diruang musik”. Kataku pelan, takut jinki oppa marah. Jinki oppa sama seperti jiyeon yg sensitiv jika mendengarku menyebut nama umma. Jinki oppa masih tdk bisa memaafkan umma yg meninggalkan kami demi suami barunya.

“dan sekarang jiyeon pergi. Pasti dia merasa tertekan setelah bertemu umma? Iya kan??”. Tanya jinki oppa lg.

aku menggeleng, karena aku tahu alasan jiyeon sebenarnya. “dia hanya sedih karna sifat egoisnya. Sebenarnya dia sangat merindukan umma, tp dia egois tdk mau mengakuinya dan hanya memendam perasaannya sendiri”.

jinki oppa mengalihkan tatapannya dariku. Ia menunduk, lalu berkata pelan “ya sudah kalau begitu. Tidurlah, sudah malam”. lalu jinki oppa berbalik pergi.

“oppa”. Panggilku sebelum jinki oppa masuk kedalam kamarnya yg ada didepan kamarku. “kau jangan egois ya. jika kau kangen umma, ungkapkan saja rasa kangenmu itu dan cobalah untuk memaafkan umma”. Kataku pelan. Jinki oppa tdk berbalik, tp ia menghentikan langkahnya.

“andai aku bisa seperti itu”. Katanya pelan. “tp aku tidak bisa dan tidak mau”. Katanya lagi lalu berjalan masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu.

_ToBeContinue_

Dont be silent reader!!

Please leave your comment.