Listen my heart part 2 (the rose flowers after story)

Author : kikyuzaraaa

Cast : Goo hara, Choi Minho , Kim so eun

Genre : romance

-so eun pov-

Aku dan hara sedang membersihkan cafe. hari sudah malam, kami berdua mendapat piket untuk membersihkan cafe sebelum tutup.

Diluar cafe, kulihat seorang pemuda daritadi berdiri disamping pintu masuk. Padahal sekarang sedang musim dingin, udara diluar pasti sangat dingin.

“hara, kau kenal pemuda itu?”. Tanyaku sambil menunjuk kearah pemuda itu pada hara yang sedang menata piring.

“Namanya choi minho”. Katanya dengan cuek.

“apa dia sedang menunggumu? Kenapa tidak kau suruh masuk saja? Diluar sangat dingin”.

“anni, aku tidak terlalu mengenalnya”.

Karena aku merasa kasihan pada pemuda itu. Akhirnya aku menghampirinya, dan menyuruhnya masuk.

“apakah hara sudah selesai?”. Tanyanya saat aku menyuruh ia masuk.

“ah, kau menunggu hara?”. Tanyaku, ia menjawab dengan anggukan. “masuklah dulu, hara masih sibuk membersihkan dapur”.kataku.

Pemuda itu mengikutiku masuk kedalam cafe.

“annyeong”. Sapa pemuda itu begitu melihat hara yang sedang menyapu.

Hara hanya menatap pemuda itu sekilas, lalu ia berbalik tanpa peduli pada pemuda yang menunggunya itu.

Segera aku menyusul hara.

“kenapa denganmu? Kasihan pemuda itu, ia menunggumu hara!”. Kataku dengan kesal karna melihat tingkah hara.

“so eun, aku tidak mau dekat2 dengan dia”. Katanya pelan. “tolong jangan memaksaku”.

“kenapa memangnya?”.

“jinki oppa”. Ia berbisik ditelingaku. “aku tidak mau mengkhianatinya”.katanya lirih.

“tapi hara..”.

“ini urusanku, tolong jangan ikut campur”. Kata hara memotong ucapanku.

Kulihat hara menghampiri pemuda bernama minho itu.

“sebaiknya kau pulang”. Kata hara pada pemuda itu.

“aku mau mengantarmu sampai kerumah”.kata pemuda bernama minho itu, sepertinya ia menyukai hara.

“aku masih sibuk, dan tolong jangan memaksaku!”. Kata hara tegas.

Pemuda bernama minho itu mendekat kearah hara dan menatap hara tajam.

“goo hara, aku menyukaimu”. Katanya. Hara mundur beberapa langkah, ia menunduk.

“mianhae, aku harus pergi!”. Hara berlari kedapur, ia mengambil tasnya lalu melangkah keluar dengan cepat. Saat melewatiku ia berkata dengan cepat. “so eun, aku duluan ya. Maaf!”.

Hara melewati minho yg masih kebingungan melihat hara pergi.

“hara..”. Kulihat minho mengejar hara keluar.

-hara pov-

Aku berjalan cepat, pemuda bernama minho itu masih mengejarku. ku stop taksi yg lewat, dan segera masuk.lalu kusuruh supir taksi cepat mengantarku pergi.

Kulihat di belakang taksi minho masih menatapku, ia terlihat kecewa dengan sikapku.

“mianhae, aku belum bisa menerima kehadiran laki2 lain dihatiku”. Bisikku pada diri sendiri.

-minho pov-

“jangan kejar dia!”. Suara teman hara menghentikan langkahku untuk menaiki taksi mengejar hara. “kalau kau menyayanginya, lebih baik biarkan dia pergi”.

Aku menurut. Gadis itu mengajakku masuk kedalam cafe.

“apa ada yang salah denganku?”. Tanyaku padanya.

“tidak ada yang salah”. Katanya pelan, “hanya waktunya yg tidak tepat”.

“kenapa?”. Tanyaku bingung.

“hara masih belum bisa menerima kehadiran seseorang dihatinya untuk menggantikan jinki oppa”.

“jinki?”.

“jinki oppa adalah pacar hara. Ia baru meninggal sebulan yang lalu karena penyakit kanker otak”. Wajah gadis yang kutahu bernama so eun itu terlihat sedih saat bercerita.”hara masih mencintainya, kepergian jinki oppa adalah pukulan menyakitkan bagi hara”.

“apakah hara tidak mungkin menyukaiku?”.

“mungkin saja, asalkan kau mau bersabar”. So eun menatapku tajam .”kalau kau benar2 mencintainya kau harus bisa membuat ia bahagia dan melupakan kesedihannya”.

“aku akan membuat hara mencintaiku, meskipun itu membutuhkan waktu yang lama”. Kataku serius.

—–

-hara pov-

Naega saranghaetdeon geu ireum

Nama yg aku cinta hanya satu dalam hidup ini

bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

Tlah menjauh dan menjauh dariku

Geu ireum ijae jeokeonokgo na oolmeokyeo

Aku menulis namamu diatas kertas, dan selalu menjaganya dalam hatiku

neanae soomgo shipeojyeo…

Dan sjak itu aku merasa aku hanya akan mncintaimu slamanya

alunan lagu ‘the name i loved’ membuatku semakin terisak. Hatiku sakit saat mengingat dulu jinki oppa sering menyanyikan lagu itu untukku.

“aku takut oppa, aku takut aku akan melupakanmu dan mencintai orang lain”. Kataku sambil terus terisak. Ditanganku aku menggenggam sekuntum mawar merah yg menjadi lambang cinta jinki oppa padaku.

—–

Pagi2 sekali aku sudah terbangun. Mataku masih sembab karena menangis semalaman. Tubuhku terasa lemas, tapi kupaksakan untuk tetap berangkat kuliah hari ini.

Hara, gwaechana??

Kubaca pesan dari so eun, pesan itu sudah dikirim dari semalam, tp aku baru membacanya. Ia pasti cemas padaku.

gwaechana 🙂

Aku membalas pesan so eun agar gadis itu tidak terlalu cemas.

—–

Dengan lemas kulangkahkan kakiku menuju halte bus dekat rumahku. Baru beberapa menit aku menunggu, bus sudah datang, segera aku menaikinya.

Bus sudah cukup penuh, jadi terpaksa aku berdiri.

“sepertinya aku kurang beruntung hari ini oppa”. Lagi2 aku berbicara sendiri, seakan bicara pada jinki oppa.

“aku akan membuat hari ini menjadi hari keberuntunganmu”. Seseorang bicara dibelakangku.

_to be continue_

Listen my heart (the rose flowers after story) part 1

Author : kikyuzaraaa Cast : Goo Hara, Kim so eun, Choi Minho, Lee Donghae Genre : romance

minho, hara

Fanfic ini adalah after story dari the rose flowers .sebelum baca ff ini, aku saranin baca cerita the rose flowers dulu. Happy reading ^^

-goo hara pov-

Kulangkahkan kakiku kepertokoan yang ramai lalu aku masuk kedalam sebuah cafe yg berada ditengah2 pertokoan itu.

“Hara!”. Seorang gadis pelayan menyambutku. Ia langsung memelukku saat melihatku datang. “apa kabar?? Sungguh aku sangat khawatir padamu”. Kata gadis manis itu.

“so eun, aku kangen padamu”. Aku memeluk gadis bernama so eun itu erat. Aku tahu ia sangat khawatir padaku. Ia tidak henti2nya mengirimiku email selama aku berada dijepang. So eun pasti berpikir aku akan melukai diriku sendiri, karna ia tahu aku masih sangat sedih setelah kehilangan pacarku yang baru saja meninggal.

“aku senang bisa melihatmu lagi hara. Aku pikirr..”. So eun tidak melanjutkan kalimatnya.

“aku sudah tidak apa2. Aku sudah bisa menerima kepergian jinki oppa. Kau jangan khawatir”. Kataku sambil menepuk bahunya.

“sukurlah, aku benar2 senang mendengarnya!”. So eun tersenyum padaku. ia benar2 gadis yang baik, selalu peduli pada semua orang.

“so eun, apakah disini ada lowongan pekerjaan?”. Tanyaku, membuat so eun menatapku bingung.”aku ingin bekerja disini”.

“mwo?? apa aku tidak salah dengar??”.

“aku ingin punya kegiatan agar aku tidak terus ingat pada jinki oppa”. Kataku serius.

“tapi bagaimana dengan kuliahmu?”.

“aku bisa mengatur waktu, disini menerima pegawai part time kan?”. “hmmp,baiklah ku tanya pada pemilik cafe dulu . mungkin besok baru aja jawaban”. Kata so eun. Aku mengangguk dengan semangat. “gumawo”. Kataku sambil tersenyum.

*seminggu kemudian*

-choi minho pov-

Lagi2 tugas kuliahku menumpuk. kulangkahkan kakiku dengan berat menuju perpustakaan kota seoul. Benar2 kegiatan yang membosankan, harus menghabiskan akhir pekan didalam perpustakaan dengan setumpuk tugas.

“ada yang bisa kubantu?”. Seorang petugas perpustakaan datang menghampiriku. Mungkin aku sekarang terlihat seperti kutu buku bodoh dengan setumpuk buku ditanganku.

“oh, annio”. Kataku padanya. Segera aku menjauhi petugas perpustakaan itu, aku mencari tempat yang nyaman untuk menyelesaikan tugasku. Perpustakaan hari ini cukup sepi. Bagaimana tidak, sekarang adalah akhir pekan.berakhir pekan diperpustakaan bukanlah hal yang menarik bagi kebanyakan orang.

“huh! Ini tinggi sekali!”. Kudengar suara seorang gadis dari arah belakangku. aku mencari sumber suara itu. ternyata suara itu berasal dari seorang gadis yang sedang berjinjit diantara rak2 buku yang tinggi, ia terlihat kesulitan menggapai buku yang letaknya dibagian atas rak karena tubuhnya kecil dan tidak terlalu tinggi. aku menghampiri gadis itu, mengambil buku yang sedari tadi berusaha ia gapai, lalu memberikan buku itu pada gadis berbadan mungil itu.

“gumawo”. Katanya pelan. aku tersenyum sebagai jawaban. Wajah gadis itu sangat cantik, rambutnya panjang dan lurus, pakaiannya rapih dan modern. “kau bisa pakai tangga disana kalau kau mau”. Kataku sambil menunjuk tangga yang biasa dipakai petugas perpustakaan untuk mengambil buku yang terletak dibagian rak atas. gadis itu tersipu malu padaku sambil berguman pada dirinya sendiri.

“oh, ngomong2 namaku choi minho”. Kataku sambil mengulurkan tangan.

“Goo Hara”. Katanya sambil tersenyum manis dan menyambut uluran tanganku. “aku permisi dulu”. Katanya, lalu ia pergi. Sebelum menghilang diantara rak2 buku ia sempat menoleh kearahku, dan tersenyum lagi. Dia benar2 cantik sekali.

-goo hara-

“apa2an tadi?? Kenapa denganku? Kenapa aku meladeni pemuda yang mengajakku berkenalan tadi. jinki oppa maafkan aku, kau pasti cemburu.”. Kataku pada diriku sendiri.

“hara, gwaechana?”. So eun tiba2 muncul dari belakangku.

“kau mengagetkanku!”.

“kau kenapa? Tadi bicara dengan siapa?”. So eun menatapku curiga.

“hah? annio! Aku sedang bernyanyi2 tadi”. Kataku mengelak.

“kukira kau..”.

“ah, aku lupa belum menyiapkan pesanan meja nomer 5. Sebentar ya!”. Aku berjalan cepat meninggalkan so eun. Hari ini adalah hari ke 5 aku bekerja dicafe. Setelah dari kuliah aku langsung kemari. Kadang aku baru pulang ke rumah larut malam. Aku juga masih harus mengerjakan tugas kuliahku, terkadang aku mampir keperpustakaan untuk meminjam buku yang bisa membantuku mengerjakan tugas kuliah. Tapi itu tidak masalah, semua kesibukanku itu membuatku lupa pada kesedihanku karna kehilangan jinki oppa.

“oppa! Aku sekarang jadi wanita yang tegar!”. Kataku pada diriku sendiri. Kadang aku memang sering berbicara sendiri, seakan2 berbicara dengan jinki oppa. Aku sadar orang2 menganggapku aneh, tp aku tidak peduli. Itulah caraku agar tetap dekat dengan jinki oppa.

—–

“kau tidak makan malam?”. Tanya so eun padaku saat aku bersiap2 pulang setelah selesai membersihkan cafe.

“aku sedang diet!”. Kataku sambil tersenyum padanya.

“badanmu sudah kurus begitu, mau dibuat kurus seperti apalagi?”. Kata so eun, ia menatapku aneh.

“jinki oppa tidak suka melihatku gemuk”. Kataku. raut wajah So eun berubah saat aku menyebut nama jinki oppa.

“hara..”.

“aku tahu! Jinki oppa sudah tidak ada”. Kataku sambil memaksakan senyuman.”aku selalu teringat kata2nya. Semuanya sulit dilupakan”. Kataku pelan. so eun memelukku, dan entah mengapa aku malah menangis dalam pelukannya. Ternyata aku masih cengeng, aku belum bisa jadi gadis yang tegar.

-choi minho pov-

Gadis itu .. Dimanakah dia? Mengapa aku jadi selalu memikirkannya. Lagi2 aku teringat padanya.

“ya! Choi minho! Kau dengar aku tidak??”. Donghae hyung menepuk pundakku. Tadi aku sedang mendengarkannya bercerita tentang sidang skripsinya.

“ah, tentu saja aku dengar. Kau hebat hyung!”. Kataku asal sambil tersenyum.

“apanya yang hebat?aku tadi tanya kapan umma dan appa pulang.” .ia terlihat agak kesal padaku.

“oh.. Kau bertanya padaku ya?hmmp besok mereka pulang”. Kataku benar2 seperti orang tolol.

“kau kenapa sih? Ada yang tidak beres dengan otakmu ya?”. Donghae hyung menatapku menyelidik.

“ahh.. Annio”. Kataku sambil tersenyum lebar dan menghindari tatapan donghae hyung.

“apa kau sedang jatuh cinta?”. Tanyanya curiga.

“masa aku jatuh cinta sih pada gadis itu??”.kataku keceplosan.

“gadis itu?? Gadis siapa? Ayo katakan pada kakakmu!”. Donghae hyung menggodaku.

“ahh.. Anni! Hyung sudahlah jangan menatapku begitu!”. Aku mengomel karna donghae hyung terus menatapku seakan2 aku telah berbuat kesalahan padanya. “adikku ternyata sedang jatuh cinta. Haha..”. ia tertawa melihat tampangku yg cemberut.

—–

Hari ini panas sekali. sepulang kuliah dengan keringat bercucuran dikeningku, kulangkahkan kakiku menuju cafe yang letaknya tidak jauh dari kampusku. Sepertinya mendinginkan diri didalam cafe adalah ide bagus. Karena begitu aku masuk, suasana didalam sangat nyaman dan tidak telalu ramai.

“annyeong, mau pesan apa?”. Seorang pelayan menyodorkan daftar menu padaku. Aku menerimanya, tanpa menengok kewajah pelayan itu.

“hmmp,ice vanila latte”. Kataku padanya setelah membaca menu yg tertera disana.

“oke, mohon ditunggu sebentar”. Kata pelayan itu ramah.lalu pergi. Aku baru menyadari sesuatu, aku mengenal suara lembut pelayan itu. Tapi saat aku mencari sosok pelayan itu, ia sudah menghilang. Aku yakin ia akan muncul lagi membawakan pesananku, jadi aku menunggunya. Karena aku yakin suara gadis itu, adalah suara gadis yg pernah kutemui diperpustakaan.

“silakan, ini pesanannya”. Seorang gadis membawakan pesananku, wajahnya manis, tapi dia bukan gadis diperpustakaan. Apakah aku tadi hanya salah mendengar? Atau hanya hayalanku saja yg seakan2 mendengar suara gadis diperpustakaan itu.

“oh, gumawo”. Kataku sambil tersenyum pada pelayan yg mengantar minumanku. Lalu pelayan itu pamit pergi.

“ahh, masa bodohlah! Mungkin aku salah dengar”. Gumamku pada diri sendiri, karena aku masih terus memikirkan gadis diperpustakaan itu. Setelah menghabiskan minumanku dan sudah merasa kembali segar.Aku membayar minumanku, lalu melangkah keluar dari cafe. Saat itu pandanganku menangkap sosok mungil yang sedang mengelap meja disudut cafe. Gadis itu… Aku segera menghampirinya.

“ukh, jinki oppa aku benar2 cape sekali hari ini. Tapi aku harus tetap semangat!”. Gadis itu sepertinya sedang berbicara ditelepon. Tapi setelah kuperhatikan, ia tidak memegang handphone.

“ehemm”. Aku berdehem. Membuat gadis itu kaget, lalu melihat kearahku. “kau??”. Tanyanya heran

“hallo, kau goo hara kan?”. Kataku sambil tersenyum. Gadis itu menatapku, lalu ia menunduk.

“aku permisi dulu”. Katanya, lalu ia berjalan melewatiku dengan wajah menunduk. Dan entah mengapa saat itu spontan tanganku menarik tangannya agar ia tidak pergi.

“aku ingin ngobrol denganmu sebentar saja. Boleh kan?”. Tanyaku.

Gadis itu melirik kearah tangannya yang kupegang. Dengan segera aku melepaskan pegangan tanganku.

“maaf, aku sibuk”. Katanya pelan, ia terlihat tidak nyaman bicara denganku.

“kalau begitu, bolehkah aku menjemputmu? Kau pulang jam berapa?”. Tanyaku, aku tidak boleh melepaskan kesempatan ini begitu saja.

“tidak usah, terima kasih”. Katanya sambil menunduk. Ia sama sekali tidak menatapku.

“kalau begitu aku akan tetap menunggumu sampai pulang”. Kataku memaksa. Gadis itu tidak mengatakan apa2 ia berbalik, pergi meninggalkanku. —– _ToBeContinue_

Please leave your comment ^^

the rose flowers

shinee , onew, goo hara , kim so eun, fanfiction

author : kikyuzaraaa

cast : onew/lee jinki,goo hara,kim so eun

genre : sad, romance, angst

– kim so eun pov-

BRUKKKKKK

Seseorang menabrak tubuhku, membuatku jatuh.

“ukh kalau jalan pake mata dong!”. Kataku sambil berusaha kembali berdiri .

Pemuda itu juga terjatuh, tapi ia tidak langsung berdiri sepertiku. Ia justru masih duduk dan menunduk.

“hei, gwaechana?”. Tanyaku pelan sambil menepuk pundak pemuda itu.

Aku menunduk didepan wajahnya, kulihat hidung pemuda itu berdarah.pemuda itu memegang hidungnya,tangannya dipenuhi darah dari hidungnya

tapi ia tetap diam, membuatku bingung harus melakukan apa.

“hidungmu berdarah, berdirilah!”. Kataku pada pemuda itu. Tetap saja tidak ada perubahan, ia tetap diam.

Akhirnya kutarik ia berdiri, sepertinya ia tidak kuat berdiri karna bergitu kutarik tubuhnya langsung limbung. Akhirnya aku memapah tubuhnya dan membantunya berjalan ketoko ku.

Aku mendudukannya dikursi dekat meja kasir. Tokoku memang baru saja tutup karna hari sudah malam.

segera kuambilkan air es untuk mengompres hidung pemuda itu.

“apa ini dampak dari tabrakan tadi?”. Tanyaku sambil memegang kain yang berisi es dihidung pemuda itu.

“kenapa diam saja? Kau tidak bisa bicara ya?”. Kataku kesal pada pemuda yang terus diam itu.

“bolehkah aku meminjam bajumu?”.akhirnya pemuda itu bicara, tapi suaranya terdengar lemah. “bajuku penuh noda darah”.

Aku melihat ke arah kaos yang ia kenakan. Darah dari hidungnya ternyata menetes kekaos yang ia pakai.

“tapi aku hanya punya pakaian wanita”.

Aku memberikan pemuda itu kaosku, kaos yang setidaknya tidak terlalu terlihat girly.

Setelah mengganti pakaiannya, pemuda itu berterima kasih padaku.

“gumawo untuk semuanya”.

“apa kau sudah tidak apa2?”. Tanyaku ragu melihat wajahnya yang masih pucat.

“gwaechana”. Katanya, ia lalu pamit pulang.

“pemuda yang aneh”. Kataku dalam hati sambil mengamati tubuh pemuda itu yang semakin menjauh.

-Goo hara pov-

“oppa!!”. Aku berteriak menyambut kedatangan jinki oppa. Segera aku berlari kearahnya dan memeluknya.

“oppa kemana saja? Kenapa tidak datang ke pesta ulang tahunku tadi?”. Kataku manja dipelukkan namja chinguku ini.

Sebenarnya aku kesal karna ia tidak datang ke pestaku, tapi entah mengapa rasa kesalku tertutupi oleh rasa kangenku padanya karna kami sudah 4 bulan tidak bertemu sejak jinki oppa kuliah dijepang.

Kurasakan ia mengelus rambutku dengan sayang.

“mianhae”. Ia berbisik ditelingaku. “nanti besok kita pergi ya. Aku ingin membayar kesalahanku”.

aku melepaskan pelukanku, menatap wajahnya. Mukanya terlihat lelah dan pucat tapi ia tetap terlihat tampan.

“Oppa kau sakit?”.

“annio”. Katanya mengelak. “aku hanya lelah, pesawatku baru mendarat 2 jam yang lalu”.

“kenapa kau baru sampai sini?”

“dijalan ada sedikit masalah chagi.. ”.

“masalah apa?”. Tanyaku curiga.

“nanti besok saja ya ceritanya, sekarang aku lelah”. Katanya pelan.

“yasudahlah, kau istirahat dikamar yang sudah kusiapkan ya oppa!”. Kataku bersemangat. karena sudah sejak kemarin aku mempersiapkan kamar untuk jinki oppa. Aku tahu ia akan menginap disini, karna rumahnya dikorea sudah dijual sementara keluarganya ikut pindah ke jepang.

“kau tidak bawa koper?”. Tanyaku saat sadar jinki oppa tidak membawa barang apapun.

“tertinggal dibandara”. Katanya, “aku lupa”.

Aku menatapnya curiga, mana mungkin ia bisa lupa pada kopernya.

“oppa, gwaechana?? Kau terlihat aneh malam ini”.

“gwaechana chagiya, aku hanya terlalu lelah”. Katanya.

Aku menyuruhnya istirahat, dan pergi meninggalkan kamarnya. Pikiranku masih diliputi rasa curiga.

“apa yang terjadi padamu oppa?”. Tanyaku dalam hati.

Pagi harinya aku membangunkan jinki oppa, aku membawa sarapan yang kubuatkan khusus untuknya.

“pagi chagiya, sampai kapan kau mau jadi pangeran tidur??”. Kataku berbisik ditelinganya.

Ia ternyata mendengar, kulihat bibirnya menyunggingkan senyuman meskipun matanya masih terpejam.

“aku tidak akan membuka mataku sebelum kau menciumku”. Katanya pelan.

Aku tersenyum mendengarnya.

“kau pikir aku ini putri yang mau membangunkan pangerannya yg tertidur? Apa tidak terbalik?”.

“cium aku chagi, kalau tidak aku akan terus tertidur”. Ia tersenyum saat mengatakannya.

Dengan perlahan aku mengecup pipinya. Lalu ia membuka matanya sambil tersenyum jahil padaku.

“saranghae chagiya”.

“sepertinya ada yg salah dengan kita?”. Kataku sambil menerawang. “kenapa aku yang harus mengecupmu agar kau bangun. Kan itu terbalik, harusnya pangeran yg membangunkan putrinya”.

ia tersenyum lagi, lalu mengelus rambutku.

“kau ini, kita kan harus beda. Biar kreativ”.

jinki oppa mengajakku pergi ke sebuah toko bunga yang hanya menjual mawar merah. Aku heran karna jinki oppa sebelumnya tidak pernah membelikanku bunga.ditoko itu ia membeli banyak sekali bunga mawar merah.

“chagiya, kau tau apa arti dari mawar merah?”. Tanyanya padaku tiba2.

“hmmp, cinta??”. Tebakku.

Ia mengangguk.

“suatu saat nanti, jika aku tidak bisa mengatakan cinta lagi padamu. Datanglah kesini, semua bunga mawar yg ada disini melambangkan cintaku padamu”. Katanya, aku semula berfikir ia hanya bercanda. Tp jinki oppa tidak terlihat bercanda, ia menatap mataku tajam.

“jangan bicara seperti itu,kalau aku rindu padamu aku bisa menyusulmu ke jepang lagipula kau juga sudah janji akan sering kekorea kan?”.

“bukan itu maksudku”. Katanya pelan. “hmmp, pokoknya nanti kalau kau rindu padaku datang kesini ya”.

“tidak mau! Kalau aku rindu padamu, aku akan menelponmu oppa”. Kataku sambil bergelut manja.

“terserah kau deh, tapi ingat kata2ku ya chagi”. Ia mengelus rambutku sambil tersenyum.

Setelah dari toko bunga, aku mengajak jinki oppa ke cafe langgananku. Tapi ia nampak ragu saat memasuki cafe itu. Akhirnya ia mau masuk setelah kupaksa.

-jinki pov-

cafe ini! Cafe yang kemarin..

*flash back*

Sial kepalaku sakit sekali, rasanya seperti mau meledak. Dengan terhuyung2 kulangkahkan kakiku keluar dari bandara. Aku benar2 tidak peduli dengan apapun saat itu, bahkan koperku sengaja kutinggal. Aku sudah terlambat datang ke acara ulang tahun hara.

Dengan sekuat tenaga kulangkahkan kakiku menuju jalan,bermaksud memberhentikan taksi.

Tapi tiba2…

BRUKKKKKK

Aku menabrak seseorang yg berdiri didepanku. kami sama2 terjatuh. Tubuhku terasa semakin lemas, kurasakan sesuatu keluar dari hidungku. Darah!

“ukh kalau jalan pake mata dong!”. wanita yang kutabrak berteriak padaku.

“hei, gwaechana?”. Wanita itu menepuk pundakku dan menunduk didepanku.

Darahku semakin banyak keluar dan kepalaku masih terasa sangat sakit.aku saat itu tidak bisa mengatakan apapun.

“hidungmu berdarah, berdirilah!”. Wanita itu menarik tubuhku dan membawaku masuk kedalam sebuah toko.

“apa ini dampak dari tabrakan tadi?”. Tanyanya sambil memegang kain yang berisi es dihidungku.

“kenapa diam saja? Kau tidak bisa bicara ya?”. Katanya kesal pada pemudaku.

Perlahan kurasakan rasa sakit dikepalaku mulai mereda.

“bolehkah aku meminjam bajumu?”.aku berkata pelan. “bajuku penuh noda darah”. Kataku lagi. Aku tidak mungkin menemui hara dengan kaos penuh darah.

“tapi aku hanya punya pakaian wanita”. Katanya.

Akhirnya ia meminjamkanku kaosnya. Setelah mengganti pakaian aku mengucapkan terima kasih padanya.

“gumawo untuk semuanya”.

“apa kau sudah tidak apa2?”. Tanyanya sambil mengamati wajahku.

“gwaechana”. Katanya, aku lalu pamit pulang.

*flash back end*

Aku bertemu lagi dengan gadis yang semalam menolongku. Ternyata ia adalah pelayan cafe tempat langganan hara.

Ia langsung menyambut kami begitu kami datang.

“tempat biasa ya so eun”. Kata hara padanya. ia tersenyum lalu mengangguk.

“kau mau pesan apa oppa?”. Tanya hara padaku setalah kami duduk.

Pelayan cafe itu menatapku, sepertinya ia sadar siapa aku. Aku memberi tatapan memohon padanya, berharap ia mengerti maksudku dan tidak berkata apapun pada hara.

“chagi, aku kekamar mandi dulu ya”. Kataku, setelah pelayan itu masuk kedalam dapur cafe.

Diam2 tanpa sepengetahuan hara aku memanggil pelayan itu.

“kumohon jangan katakan apapun padanya. Anggap kita tidak pernah bertemu”. Kataku memohon.

“kenapa?”. Tanyanya.

“siapa namamu?”.

“kim so eun”.

“aku tidak bisa jelaskan sekarang so eun, tapi kumohon jangan katakan apapun padanya. Aku tidak mau ia khawatir”.

“baiklah aku mengerti”. Katanya.

-goo hara pov-

Jinki oppa akhirnya muncul, setelah lama sekali ia ditoilet.

“kenapa cemberut begitu?”. Tanyanya sambil tersenyum, aku tahu ia selalu begitu. Tersenyum ketika melihatku cemberut, ia bahkan sangat suka menggodaku.

“lama sekali sih”. Kataku macemberut. “jangan tinggalkan aku lagi oppa. Aku tidak mau sendirian”.

Raut wajah jinki oppa langsung berubah. Hari ini ia benar2 aneh, tadi juga ia mengatakan hal yang aneh saat ditoko bunga2 seakan2 ia akan meninggalkanku. Aku jadi takut kehilangannya.

So eun datang membawakan pesanan kami. wajahnya yang manis tersenyum ramah pada kami.

“oppa, so eun ini temanku. Ia baik sekali padaku. Setiap aku datang kesini dengan wajah sedih, ia pasti akan menghiburku. Ia juga dengan senang hati mendengarkan curhatku”. Kataku pada jinki oppa, membuat wajah so eun memerah.

“so eun, jinki oppa ini namja chinguku. Ia yang sering aku ceritakan padamu”.

“salam kenal so eun”. Jinki oppa menyapa so eun. So eun yang agak pemalu hanya mengangguk dan tersenyum singkat.

“aku sering datang kesini. Kadang hanya untuk ngobrol dengannya”. Kataku lagi.

“gumawo so eun”. Kata jinki oppa. “kau telah menjadi teman yang baik untuk hara”. Katanya lagi.

So eun tersenyum. “annio, hara juga sangat baik padaku”.

“kau kenapa oppa? Wajahmu pucat sekali.” kataku cemas, saat kami baru sampai rumah . Jinki oppa duduk di sofa ruang tamu sambil menunduk, wajahnya terlihat kesakitan.

“oppa, jawab aku!” .kataku lagi karna jinki oppa hanya menunduk dan tidak berkata apa2.

“oppa, gwaechana??”. Tanyaku panik. Jinki oppa terlihat kesakitan, ia menjambak rambutnya seperti orang kesetanan.”oppa!”. Aku menangis memanggil namanya, aku benar2 tidak tahu harus melakukan apa.

“oppa, apa yang harus kulakukan?”. Tangisku semakin menjadi2. “tolong katakan sesuatu oppa, jangan membuatku panik”.

Lalu kulihat jinki oppa menatapku, dengan tangannya yang bergetar ia menghapus air mataku.

“uljima, aku tidak apa2″. Katanya pelan.”hanya sakit kepala biasa”.

“jinja?”. Tanyaku meyakinkan.

“ne”. Ia lalu menarikku dalam pelukannya.aku masih menangis dalam pelukannya, aku benar2 takut terjadi sesuatu padanya. Kurasakan helaan nafasnya yang sesak dan detak jantungnya yg tidak karuan.

“oppa, kita kedokter ya”. Kataku melepaskan pelukannya.

“annio, sudah kubilang aku tidak apa2. Sudah malam chagiya, kau harus tidur”.

“aku tidak akan bisa tidur”.

“aku akan menemanimu”. Katanya sambil membelai rambutku.

Jinki oppa menemaniku dikamar, ia menyanyikan lagu ‘the name i loved’. Lagu yang sering ia nyanyikan untukku. Ia membelai rambutku dengan lembut. Lama2 aku jadi mengantuk dan akhirnya tertidur.

-jinki pov-

Aku terus memandangi wajah hara yang sedang tertidur. Ia benar2 cantik, seperti malaikat.

“hara, kau harus tahu aku sangat menyayangimu”. Bisikku ditelinganya.

Kurasakan air mataku menetes dipipiku, segera aku menghapusnya. Aku tidak boleh terlihat cengeng didepan hara.

Setelah menarik selimut hara sampai menutupi setengah badannya, aku mematikan lampu kamar hara lalu pergi keluar dari kamarnya.

Malam ini aku harus menemui so eun, aku harus mengatakan sesuatu padanya.

Kuambil jaketku dan bungkusan yang berisi kaos milik so eun.

“jinki oppa?”. Tanya so eun bingung saat melihatku kembali datang ke cafenya padahal sudah larut malam.

“aku mau mengembalikan ini”. Kataku sambil menyerahkan bungkusan yg berisi kaos milik so eun.

so eun mengajakku duduk disalah satu bangku yang ada didalam cafe. Saat itu cafe sudah tutup.

“brain cancer stadium akhir!”. Kataku padanya. “aku tidak punya harapan hidup”. Aku berkata lirih. Kulihat so eun menatapku tajam.

“itukah sebabnya kau tidak ingin hara tahu kalau sebelumnya kau pernah datang kesini dalam keadaan hidung berdarah?”.

aku mengangguk pelan sebagai jawaban. “aku tidak ingin hara cemas”.

“kau salah oppa, kau seharusnya jujur padanya”.

“aku tidak ingin hara sedih. Biarlah kesedihan itu ia rasakan nanti, jangan sekarang. Sekarang aku ingin membuat dia bahagia”. Kataku, aku menatap mata so eun . “so eun, maukah kau berjanji untukku?”.

“janji??janji apa?”.

“berjanjilah kau akan menghibur hara nanti jika ia sedih karna aku sudah tidak ada lagi. Aku yakin hara akan datang kesini dan menemuimu saat ia sedih”.

“tanpa kau minta aku akan melakukannya. Hara gadis yg baik, ia sudah kuanggap sahabatku”. Katanya.

“baiklah, aku sekarang bisa tenang”. Kataku sambil mengehela nafas.

“jaga dirimu oppa”. So eun terlihat khawatir . “kau harus bertahan hidup untuk hara!”.

“aku akan berusaha”. Kataku sambil memaksakan senyuman.

-hara pov-

Aku mengetuk pintu kamar jinki oppa, tapi tidak ada jawaban. Jadi kubuka pintunya yang tidak terkunci.

Jinki oppa masih tertidur dibalik selimutnya, padahal hari sudah siang.

Dengan pelan aku membelai rambutnya dan mengecup dahinya.

“pangeran tidurku, bangunlah”. Kataku berbisik ditelinganya.

Tidak ada jawaban, mata jinki oppa tetap terpejam.

aku memeluknya, menaruh kepalaku didadanya. Sambil tersenyum aku memperhatikan wajahnya yang sedang tertidur seperti bayi.

‘DEG’ aku baru sadar akan sesuatu. aku tidak dapat mendengar detak jantung jinki oppa meskipun telingaku berada tepat didadanya.

“oppa..”. Aku mengguncang tubuh jinki oppa. “oppa!”. Aku mulai berteriak panik.

“oppa.. Bangun.. Kumohon jangan bercanda”. Aku menangis terisak.

“oppa!!!!”. Aku menarik tangannya. Ia sama sekali tidak bereaksi.

Saat itu mataku menangkap sebuah kertas disamping tubuh jinki oppa. Aku mengambil kertas itu.

Dear Haraku tersayang

Maaf aku tidak bisa selalu menemanimu. Aku tidak kuat untuk bertahan. Kuharap kau mau memaafkanku.

Aku sayang padamu hara.

Lee jinki

Aku semakin terisak membaca surat dari jinki oppa.

“pangeranku telah tertidur untuk selamanya”.

Aku melangkahkan kakiku menuju toko bunga mawar tempat dimana dulu jinki oppa membelikanku bunga.

Disana aku melihat banyak sekali bunga mawar. aku tersenyum, sambil mengambil setangkai bunga lalu menciumnya.

“terima kasih untuk cintamu oppa”. Bisikku pada bunga mawar itu. Bunga mawar yg menjadi lambang cinta jinki oppa padaku.

hari2ku mulai berjalan seperti biasa sejak kepergian jinki oppa. terkadang aku merasa sedih jika teringat padanya. Tapi sekarang aku bisa mengatasi kesedihan itu. Kadang aku pergi ke cafe, So eun selalu menghiburku, ia bilang jinki oppa akan selalu ada dihatiku dan selamanya mencintaiku . aku juga rutin membeli bunga mawar setiap harinya, entah mengapa aku merasa bunga mawar benar2 mewakili jinki oppa mengatakan “saranghae chagiya” padaku.

end

dont be silent reader!!!

please leave your comment.