Hyung, you’re the best

 

Author : kikyuzaraaa

Cast : Lee Jinki (onew), Choi Minho, Goo Hara

Genre : family, romance, sad, angst

Cuaca mendung terus menghiasi langit kota Seoul. Udaranya cukup dingin, terlebih lagi gerimis belum juga reda.

Seorang pemuda merapatkan jaketnya berjalan menembus hujan tanpa payung, pemuda itu kedinginan. Tapi ia berusaha melupakan rasa dingin yang menjalar ditubuhnya, hari ini ia harus ke perpustakaan. Tidak peduli betapa ekstrimnya cuaca, ia harus menyelesaikan tugas makalahnya.

Setelah kurang lebih berjuang menembus cuaca ekstrim selama 15 menit, akhirnya pemuda itu sampai diperpustakaan kota. Dengan cepat ia bergegas masuk kedalam perpustakaan, berharap suhu didalam lebih hangat dibanding diluar.

 

Hari sudah malam, pemuda itu baru selesai merangkum bahan makalahnya ketika petugas perpustakaan memberitahu bahwa perpustakaan sebentar lagi tutup. Ternyata pemuda itu bukanlah satu-satunya pengunjung yang masih berada disana. Masih ada seorang gadis yang terlihat berkonsentrasi dengan buku yang dibacanya.

”permisi nona, kami harus tutup sekarang”. Petugas perpustakaan menegur gadis tersebut.

Gadis itu terkesiap, lalu dengan cepat ia membereskan tasnya dan bangkit berdiri.

 

Diluar hujan sangat deras. Pemuda dan gadis yang baru keluar dari perpustakaan itu kini berdiri mematung memandangi hujan. Mereka bingung harus bagaimana, hujannya terlalu besar untuk mereka tembus.

”hujan, hmmp?”. Gadis itu melirik pemuda disampingnya yang barusan seperti bergumam.

Ternyata pemuda itu juga sedang menatapnya, mereka saling tersenyum.

”hujannya terlalu deras , ohh.. Molla otokhae?”. Gadis itu mengeluh, ia benci hujan dan basah.

”mau tunggu sampai hujannya reda?”. Pemuda itu bertanya pada si gadis.

”ntahlah”.

”lebih baik berteduh dicafe itu, paling tidak sampai hujannya reda”. Kata si pemuda, sambil menunjuk kafe 24 jam yang berada tepat disamping perpustakaan.

 

Gadis itu menerima tawaran pemuda itu, dan kini mereka duduk berdua didalam cafe. Keduanya sama-sama memesan vanilla late untuk menghangatkan tubuh mereka.

”namaku Lee Jinki”. Kata si pemuda tiba-tiba. Mengingatkan si gadis bahwa mereka belum berkenalan.

”Goo Hara”.

”senang bertemu denganmu Hara, paling tidak ada yang menemaniku menunggu sampai hujan reda”. Jinki tersenyum. Matanya yang sipit hilang dibalik senyumannya.

”sama, aku juga juga senang bertemu denganmu oppa”.

”eh? Kau panggil aku oppa? Apa aku terlihat tua?”. Jinki menggembungkan mulutnya, memasang tampang sok imut.

Hara tertawa melihatnya, meskipun ia baru pertama kali bertemu Jinki. Namun Hara sudah bisa menduga usia Jinki sebenarnya lebih tua darinya, walaupun secara fisik Jinki memang tidak terlihat lebih tua. Pemuda bernama Jinki ini berwajah imut dan bermata sangat sipit.

”apa aku salah?”.

”ya.. Baiklah. Kau memang lebih muda dariku”. Jinki menyerah.

Lagi-lagi Hara tertawa, entah apa yang sebenarnya ditertawakannya. Hanya saja Hara merasa Jinki punya aura tersendiri untuk membuatnya tersenyum dan tertawa.

”hujan diluar sudah reda”. Kata Jinki, matanya meneliti lewat jendela yang ada disamping mereka. ”sekarang sudah malam, sebaiknya kita pulang”.

 

Setelah membayar minuman mereka. Jinki dan Hara berjalan berdua keluar dari cafe, hujan memang sudah reda dan hanya menyisakan jalan yang becek.

”dimana rumahmu?”. Tanya Jinki tiba-tiba.

”eh?”.

”sekarang sudah hampir tengah malam, tidak baik seorang gadis sepertimu berjalan sendirian”.

”uhmm.. Rumahku jauh dari sini”.

”boleh aku mengantarmu?”. Jinki menawarkan diri, walaupun ia baru mengenal Hara beberapa jam yang lalu. Namun instingnya sebagai seorang laki-laki tergerak untuk melindungi gadis ini.

Hara hanya mengangguk sebagai jawaban, tanda ia setuju Jinki mengantarnya. Mereka berdua kini berjalan menembus udara dingin sisa dari hujan yang baru saja reda. Langit benar-benar gelap, tidak terlihat bintang sama sekali disana. Dalam hati Hara bersyukur Jinki menemaninya, kalau tidak ia pasti sudah ketakutan.

”tidak ada bintang”. Jinki mengatakan hampir sama persis dengan apa yang ada dipikiran Hara saat ini. Hara agak terkejut mendengarnya.

”sepertinya bintang takut padamu oppa”. Hara tersenyum, meskipun ucapannya tidak lucu tapi Jinki tertawa mendengarnya.

”bintang itu sahabatku”. Kata Jinki disela tawanya.

”kalau begitu bintang telah mengkhianati persahabatan kalian. Lihat saja ia bahkan tidak mau menerangi jalanmu”.

Jinki tertawa lagi mendengar kata-kata Hara. Apa yang keluar dari mulut Hara memang terdengar biasa, namun caranya bicara entah mengapa membuat Jinki tertawa.

”aku sedang tidak melucu, mengapa kau tertawa??”. Kata Hara sebal, ia merasa Jinki sedang meledek dirinya.

”kau sadar tidak, barusan kau itu berkata dengan tampang yang sangat lucu”. Jinki menutup mulutnya, berusaha menghentikan tawanya.

Hara tidak habis pikir mengapa pemuda bernama Jinki ini menertawakan ucapannya. Biasanya Hara sama sekali tidak pintar membuat lelucon, terkadang leluconnya dianggap tidak lucu oleh teman-temannya.

”kau marah??”. Jinki memperhatikan Hara yang jadi diam disisa perjalanan.

”kau beneran marah??”. Tanya Jinki lagi karena Hara tidak menjawab pertanyaannya.

”hei.. aku punya lelucon. Kau pasti tertawa mendengarnya”. Jinki berusaha membuat Hara tidak marah pada dirinya.

”kau tahu mengapa bintang lebih sering datang bergerombol dan tidak seperti bulan yang berani datang sendirian??”. Jinki bertanya dengan tampang serius, dan Hara hanya menjawab dengan gelengan kepala. ”karena ia kecil, dan tidak terlihat jika sendiri. Sedangkan bulan besar, jadi ia bisa terlihat dengan jelas meskipun berdiri sendiri”.

Lelucon Jinki terdengar garing. Tapi cara dia membawakannya membuat Hara terkikik geli. Bisa-bisanya ada orang yang menciptakan lelucon segaring ini. Hara tidak habis pikir.

”kau tertawa? Kau tidak marah lagi??. ya tuhan, aku tidak percaya kau tertawa. Kau orang pertama yang menertawakan leluconku!”.

Hara berhenti tertawa, kini ia benar-benar menganggap pria bernama Lee Jinki ini benar-benar langka.

”kau itu.. Benar-benar deh!”. Hara menepuk pundak Jinki pelan.

Padahal mereka baru saling mengenal, tapi mereka dengan cepat akrab.

 

Setelah lebih dari 15 menit berjalan, akhirnya mereka sampai dirumah Hara.

”gumawo oppa, kau teman perjalanan yang menyenangkan”. Kata Hara sambil tersenyum.

”kau juga, jangan pernah berhenti membuat lelucon ya”.

Hara lagi-lagi tertawa mengingat lelucon tadi.

”hmmp, baiklah kau bisa melanjutkan tawamu didalam kamar. Aku pulang dulu”.

Hara melambaikan tangannya, matanya menatap kepergian Jinki.

‘kapan aku bisa bertemu dengannya lagi?’ gumam Hara dalam hati.

 

******

 

”Yaks!!! seminggu lagi”. Minho berteriak dari dalam kamarnya, membuat Jinki tertarik untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan adiknya tersebut.

”ya hyung! Kenapa tidak mengetuk pintu dulu!”. Kata Minho galak karena Jinki sudah berada didalam kamarnya tanpa mengetuk pintu dulu.

”kau kenapa??”.

”kenapa apanya?”.

”apanya yang seminggu lagi?”. Jinki masih penasaran.

Minho menunduk, menimbang apa ia harus mengatakan rencananya ini pada Jinki.

”aku menyukai seorang wanita, dan aku ingin menyatakan cinta padanya seminggu lagi”. Akhirnya Minho menceritakan rencananya pada Jinki.

”kenapa harus menunggu seminggu lagi? Kenapa tidak sekarang saja?”.

”aku tidak siap sekarang. Lagipula minggu depan ulang tahunku, aku akan merayakan ulang tahunku bersamanya”. Wajah Minho terlihat merona saat menceritakannya.

”sejak kapan adik playboyku jadi ciut begini? Biasanya kau tidak pernah takut menyatakan cinta pada gadis manapun”. Jinki menjitak kepala adiknya. Minho memang sangat tampan, biasanya ia memanfaatkan ketampanannya untuk memikat gadis-gadis disekitarnya. Jinki sudah sangat mengenal watak Minho, adiknya ini tipe pemuda yang tidak pernah serius jatuh cinta. Yang ada diotaknya hanya untuk kesenangan saja, ia tidak pernah benar-benar serius berpacaran. Tapi kali ini lain, Jinki bisa melihat dari pancaran mata Minho bahwa Minho benar-benar sedang jatuh cinta.

”kali ini berbeda hyung, gadis ini bisa membuatku mati rasa jika berada didekatnya. Aku bahkan merasa jantungku berhenti saat ia berada disampingku”.

Jinki terkikik geli, akhirnya ada juga gadis yang berhasil menaklukan hati sang playboy.

”lakukan yang terbaik, aku mendukungmu”. Kata jinki sambil menepuk bahu minho.

 

******

Hara terus melamun sepanjang pelajaran, ia bahkan sama sekali tidak menyimak dosennya yang sedang menerangkan didepan kelas. Pikirannya melayang, memikirkan pemuda bernama Jinki yang kemarin ditemuinya.

‘kapan ya aku bisa bertemu dengannya lagi?’

Belum apa-apa Hara sudah merindukan senyuman pemuda bernama Jinki itu. Wajahnya selalu terbayang dipikiran Hara.

 

Pelajaran usai, Hara baru tersadar dari lamunannya setelah Nicole temannya menepuk pundaknya.

”hey, apa yang salah denganmu?kau melamun sepanjang pelajaran, bukan seperti Hara yang biasa”.

Hara tersenyum lemah pada Nicole, sahabatnya ini ternyata sangat perhatian padanya.

”aku baik-baik saja”. Hara bangkit dari tempat duduknya, mengedipkan sebelah matanya pada Nicole sebelum ia berjalan keluar.

 

”mungkin harus keperpustakaan, siapa tau dia ada disana”. Hara bicara sendiri sambil berjalan dikoridor kampusnya.

”kau mau keperpustakaan?”. Tanpa Hara sadari seorang pemuda mendengar ucapannya.

”Minho?”. Hara menengok kearah sumber suara. Ia melihat Minho teman sekampusnya sedang berjalan disampingnya.”sejak kapan kau berjalan disampingku?”. Tanya Hara heran karena ia tidak menyadari kehadiran Minho.

”kau mau keperpustakaan?”. Minho menghiraukan pertanyaan Hara.

”hmmp ya, perpustakaan kota”.

”mau kutemani?”.

”ah, tidak usah”. Hara buru-buru menolak tawaran Minho. Bisa gawat jadinya kalau Minho menemaninya, bisa-bisa ia tidak bebas mengobrol dengan pemuda bernama Jinki itu.

”kenapa? Kan tidak baik gadis cantik sepertimu pergi sendirian”. Minho mulai mengeluarkan jurus rayuan gombalnya, tapi sayangnya rayuan itu tidak mempan untuk seorang Hara.

”aku akan baik-baik saja kok”. Kata Hara dengan nada kesal, sebenarnya ia tidak suka dengan cara Minho yang selalu berusaha merayunya.

”hmmp baiklah, tapi kau tidak boleh menolak ajakanku pergi hari jumat nanti”.

”pergi kemana?”.

”itu rahasia,pokoknya kau pasti akan suka”

”oke, tapi bisakah sekarang kau tidak mengikutiku”. Hara menghentikan langkahnya. Merasa risih dengan Minho yang berjalan disampingnya.

Minho sama sekali tidak merasa bersalah, ia justru malah tersenyum pada Hara. ”baiklah, sampai jumpa” . Kata Minho ia melambaikan tangan pada Hara lalu berbalik pergi.

”dasar playboy!”. Umpat Hara kesal.

 

******

 

Berkali-kali Jinki mengecek jam tangannya. Bus yang ia tunggu tidak kunjung datang padahal ia hari ini harus cepat keperpustakaan kota untuk meminjam beberapa buku untuk keperluan kuliahnya.

”ya tuhan, sungguh ini menyebalkan”. Jinki mengomel sendiri. Akhirnya ia menyerah dan memilih jalan kaki ke perpustakaan kota.

 

Sementara itu, diperpustakaan kota. Seorang gadis berambut panjang memainkan rambutnya dengan bosan. Sudah setengah jam ia menunggu tapi sosok pemuda yang ditunggunya tidak kunjung datang.

”apa dia tidak datang hari ini?”. Kata gadis bernama Hara itu, ia bertanya pada dirinya sendiri. Lama-lama Hara bosan menunggu, dan akhirnya ia menyerah.

Hara akhirnya memutuskan untuk pulang, namun tanpa ia sadari saat itulah pemuda yang ditunggunya datang. Mereka berpapasan dipintu masuk, namun keduanya sama-sama tidak melihat karena situasi yang ramai dan padat.

 

******

 

Kota Seoul kembali diguyur hujan. Mengingatkan Jinki pada seorang gadis yang dikenalnya kemarin ketika hujan. Jinki duduk melamun dimeja makan rumahnya sambil memandang keluar jendela. Ia teringat akan gadis bernama Goo Hara yang baru dikenalnya namun sudah terasa sangat akrab.

”hyung.. Kau tidak bilang kalau gulanya habis”. Minho bicara pada Jinki namun Jinki tidak menyadarinya, ia masih melamun dan memandang keluar jendela.

”Ya!!!”. Minho menepuk pundak Jinki membuat Jinki terkesiap dan tersadar dari lamunannya. ”kau sedang jatuh cinta ya?”. Tebak Minho sambil mengamati wajah hyungnya.

”aah.. Anni! Kau bicara apa sih?”.

”katakan padaku hyung, siapa gadisnya?”. Tanya Minho penasaran karena selama ini ia tidak pernah melihat kakaknya jatuh cinta.

”kau bicara apa sih ho!!!”. Jinki mengelak, tapi dari wajahnya yang bersemu merah Minho jadi semakin yakin kakaknya ini sedang jatuh cinta.

”hyung, kau ini sudah tua. Cepatlah punya pacar dan menikah”.

Jinki menepak kepala Minho, ”enak saja tua! Aku baru 21 tahun”.

Minho tertawa melihat tingkah Jinki. Hyungnya ini memang sama sekali tidak terlihat sudah berkepala dua, penampilannya masih seperti ABG dan wajahnya juga sama sekali tidak terlihat dewasa.

”aku ingin melihatmu menggandeng seorang wanita”.

Kali ini Jinki menatap Minho serius. ”aku harus selesaikan kuliahku dengan baik dulu, demi umma dan appa”.

Minho menghela napas. Ia tahu betul Jinki memang sedang berjuang memberikan yang terbaik untuk umma dan appa mereka yang sudah meninggal. Ia tahu Jinki banting tulang mati-matian belajar agar bisa meraih gelar sarjana kedokteran yang diimpikannya. Dan mungkin karena itulah Jinki tidak pernah berpacaran, waktunya hanya ia gunakan untuk belajar.

”aku bangga padamu hyung!”. Minho menepuk pundak Jinki sambil tersenyum tulus.

 

******

 

8 desember 2011

22.00

 

Jinki masih sibuk dengan tugasnya, ia kini berada diperpustakaan kota. Padahal hari sudah larut malam, tapi ia tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan tugasnya.

”mianhae, kami harus tutup”. Sampai akhirnya petugas perpustakaan menegurnya. Jinki mengangguk tanda ia paham, dan segera membereskan barang-barangnya yang berserakan dimeja perpustakaan.

Dengan langkah gontai karena lelah Jinki berjalan keluar dari gedung perpustakaan. Ia sama sekali tidak melihat seorang gadis berdiri dihadapannya.

”oppa!”. Gadis itu memanggilnya dan membuat Jinki terkejut.

”Hara!”. Jinki tersenyum pada Hara, akhirnya mereka bisa bertemu lagi.

”kau baru dari perpustakaan?”. Tanya Hara sambil melirik tumpukkan buku ditangan Jinki.

”ya begitulah, kau sendiri kenapa masih berkeliaran dimalam hari?”.

”aku baru dari rumah teman, mengerjakan tugas”. Kata Hara sambil menunjukan tas jinjingnya yang terisi penuh oleh buku-buku.

”hmmp, apa kau keberatan menemaniku minum di cafe?”.

Tanpa pikir panjang Hara mengangguk dan menerima ajakan Jinki.

 

Kini mereka berdua duduk berhadapan, berpura-pura sibuk dengan minumannya masing-masing meskipun terkadang mereka saling mencuri pandang.

”oppa, kau ambil jurusan apa sih? sepertinya sibuk sekali”. Hara memberanikan diri memulai pembicaraan, meskipun sebenarnya ia berharap Jinki duluan yang bicara.

”kedokteran”.

”waw, calon dokter!”.

”kau sendiri?”.

”seni lukis”.

”kau jago menggambar dong?”.

”tidak juga”. Jawab Hara malu-malu.

”sekali-kali kau harus melukisku”. Kata Jinki sambil tersenyum.

”kapan ulang tahunmu?”.

”14 desember”.

”itu sebentar lagi, tapi akan kuusahakan membuatkan sebuah lukisan untukmu”. Kata Hara bersemangat.

”bagaimana kau bisa melukisku kalau kau tidak punya fotoku?”.

”aku punya keahlian tersendiri melukis wajah orang tanpa melihat orangnya ataupun fotonya. Akan kutunjukkan padamu nanti”.

Jinki tertawa, ia sebenarnya tidak tahu alasannya mengapa ia tertawa. Tapi yang jelas gadis bernama Hara ini benar-benar menggemaskan, Jinki merasa nyaman didekatnya.

”lagi-lagi tertawa. Aku sedang tidak melucu!”. Kata Hara sebal, ia memasang wajah ngambek. Padahal sebenarnya ia tidak mempermasalahkan Jinki menertawakannya karena sebenarnya Hara sangat menyukai Jinki apalagi ketika ia tertawa sampai matanya hilang dibalik tawanya.

”mianhae, jangan marah dong”. Jinki masih meneruskan tertawa, ia menyukai Hara terlebih lagi saat ekspresi wajahnya sedang menggemaskan seperti sekarang.

”buat lelucon yang lucu untukku, dan aku tidak akan marah padamu lagi”.

Jinki berpikir sesaat, leluconnya selalu dianggap tidak lucu oleh orang-orang tapi mengapa Hara seperti menyukai leluconnya.

”go apa yang paling cantik?”. Jinki memulai leluconnya.

”go?? Go apa?”.

”Goo Hara”.

Hara menatap Jinki dengan tatapan aneh, sementara Jinki sendiri sedang tertawa menertawakan lelucon garingnya. Sampai akhirnya tawa Jinki menular pada Hara dan Hara ikut tertawa. Dalam hati Hara bersumpah, tidak ada orang yang bisa membuat lelucon segaring ini kecuali Jinki.

 

******

 

09 desember 2011

 

Pagi-pagi Jinki sudah bangun dan menyiapkan sarapan spesial. Hari ini ulang tahun Minho dan ia ingin semuanya spesial dihari ulang tahun adiknya.

Saat Minho keluar dari kamarnya, Jinki buru-buru meniup terompet yang sudah disiapkannya untuk menyambut Minho.

”hyung..”. Minho menatap Jinki tidak percaya kakaknya ini telah menyiapkan kejutan untuk ulang tahunnya.

”saengil chukkae adikku yang tampan”. Kata Jinki bersemangat.

Minho menghampiri Jinki, mereka berpelukan sesaat lalu Jinki menjabat tangan Minho.

”lakukan yang terbaik diusiamu yang semakin bertambah ini”. Pesan Jinki sebagai seorang kakak.

”gumawo hyung”. Minho sebenarnya merasa terharu, tapi ia menyembunyikannya rasa terharunya.

Jinki memberikan sebuah kado pada Minho, kado yang telah ia siapkan untuk ulang tahun adiknya ini sejak jauh hari.

”jam tangan” kata Minho takjub begitu membuka bungkus kadonya.

”itu untukmu agar kau tidak sering terlambat lagi”.

”gumawo hyung”. Kali ini Minho benar-benar terharu. Dipandanginya wajah Jinki, terbesit perasaan sedih dihatinya. Bagaimana kalau Jinki tidak ada? Tapi pikiran itu langsung dibuang jauh-jauh olehnya.

”kau jadi menyatakan cinta pada gadismu hari ini?”. Tanya Jinki tiba-tiba ketika mereka sedang menyantap sarapan yang dibuat Jinki.

”jadi dong”. Jawab Minho dengan mulut penuh makanan. ”oh hyung, kau ajak gadismu ke acara makan malamku ya”.

”gadisku? Siapa??”. Jinki tidak mengerti maksud Jinki.

”gadis yang membuatmu melamun, pokoknya kau harus membawanya nanti malam”.

”kau bicara apa sih? Dia bukan siapa-siapa”. Wajah Jinki bersemu merah tidak tahan digoda oleh Minho.

”pokoknya kau harus mengajaknya”. Minho menatap Jinki serius. ”kumohon..”. Pintanya.

Jinki menimbang-nimbang, apa Hara mau diajak makan malam? Tapi pada akhirnya Jinki mengangguk, tanda ia setuju.

 

******

”Hara~yaa.. Handphonemu terus bergetar daritadi”. Nicole berteriak agar Hara yang sedang dikamar mandi bisa mendengarnya.

”dari siapa???”. Teriak Hara dari kamar mandi.

Nicole mengambil handphone Hara dan melihat nama penelpon yang tertera dilayarnya.

”dari Jinki”.

Brukkk

Hara buru-buru keluar dari kamar mandi dan merebut handphonenya dari tangan Nicole.

”yeobosseo”. Sapa Hara begitu ia menekan tombol ‘answer’ diteleponnya.

”Hara.. hmmp.. Apa kau ada acara nanti malam?”. Suara Jinki terdengar bergetar, ia sepertinya gugup.

”nanti malam? Tidak ada!”. Hara hampir berteriak, ia yakin Jinki akan mengajaknya keluar nanti malam.

”kalau begitu aku akan menjemputmu nanti malam”.

”oh, oke!”.

”sampai jumpa, annyeong”.

”annyeong..”.

Hara mematikan teleponnya, lalu melemparnya kekasur yang ada dikamarnya. Ia berlari memeluk Nicole sambil berteriak.

”dia mengajakku kencan!!!!”.

 

******

 

Minho memperhatikan bayangan dirinya dikaca. Ia kini memakai tuksedo berwarna putih yang khusus ia siapkan untuk hari istimewanya. Malam ini ia akan menyatakan cintanya pada Hara dan ia akan mengenalkan Hara pada Jinki.

”ho, aku duluan ya”. Suara Jinki terdengar dibalik pintu kamar Minho.

”oke, titip salam untuk gadismu ya hyung!”. Seru Minho sambil tersenyum. Malam ini akan jadi malam yang benar-benar istimewa.

 

Jinki menjemput Hara dengan mobil sewaan. Ia sengaja menyewa mobil, karena Jinki pikir tidak cocok kalau ia harus pergi dengan Hara naik bus dengan pakaian seresmi ini.

”kau cantik”. Puji Jinki pada Hara, Hara mengenakan gaun malam berwana hitam.

Hara tersenyum mendengarnya, dalam hati ia sangat senang karena Jinki memujinya.

 

Sementara itu, Minho sedang dalam perjalanan kerumah Hara dengan sepeda motornya. Minho pikir akan sangat menarik menaiki motor sport dimalam hari dengan pakaian resmi, Hara pasti tidak akan keberatan.

Tapi Minho langsung kecewa begitu ia sampai dirumah Hara pembantu Hara mengatakan bahwa Hara sedang tidak ada dirumah.

Minho berusaha menghubungi Hara namun Hara tidak mengangkat teleponnya.

Akhirnya dengan perasaan kecewa Minho mengendarai motornya menuju restoran dimana Jinki dan gadisnya sudah menunggu. Ia harus menahan malu pada kakaknya karena gagal membawa gadis yang disukainya keacara makan malam ini.

 

******

 

Dunia seakan benar-benar berhenti berputar saat Minho menyaksikan siapa gadis yang duduk disamping Jinki.

Hara.. Gadis itu kini memandangnya tidak percaya.

”minho?”

”kalian sudah saling kenal?”. Jinki masih belum menyadari apa yang terjadi diantara Minho dan Hara.

”jadi ini alasanmu menolak ajakanku? Karena dia???!!”. Minho berteriak, ia kesal karena merasa kalah. Jinki telah merebut Hara darinya.

”kau bicara apa sih??”. Jinki tidak mengerti mengapa Minho berteriak seperti itu.

”Hyung.. Kau tahu hari ini adalah hari ulang tahunku!! Kenapa kau melakukan ini! Mengapa kau merebut Hara dariku!!!”.

Jinki berusaha mencerna ucapan Minho. Jadi.. Hara adalah gadis yang Minho maksud, gadis yang dicintainya. ya tuhan..

 

Minho menggebrak meja, lalu pergi meninggalkan restoran dengan penuh emosi.

Sementara Hara dan Jinki berdiri mematung. kepala Jinki terasa sakit, ia shock dengan kejadian mengejutkan ini. Mengapa bisa begitu kebetulan? Mengapa ia dan Minho harus mencintai gadis yang sama?.

 

******

 

Minho tidak pulang kerumah semalaman. Dan semalaman itu Jinki tidak tidur, ia menunggu Minho, ia harus menyelesaikan masalah ini.

Jinki sudah memutuskan untuk mengalah, ia akan melupakan Hara demi Minho.

 

Pukul 4 pagi dan Minho belum juga pulang. Akhirnya Jinki memutuskan untuk pergi mencarinya. Ia benar-benar mengkhawatirkan Minho.

Dan kekhawatiran Jinkipun terbukti. Saat ia berjalan disekitar pertokoan yang sepi, ia melihat segerombolan preman sedang mengeroyok Minho. Rupanya Minho mabuk sehingga tidak bisa melawan, wajah Minho sudah babak belur dipukuli preman tersebut.

”Ya!! Beraninya kalian menyakiti adikku!”. Jinki berusaha menolong Minho, tapi justru preman itu mengeroyoknya juga. Jinki kepayahan, tubuhnya yang kecil sangat kontras dengan 2 preman berbadan besar yang dihadapinya ini.

”habisi saja kakak adik ini”. Kata preman yang kini memegang tangan Jinki.

Salah seorang dari mereka mengeluarkan pisau, ia menghampiri Minho yang tergolek dijalan dengan setengah sadar.

”Minho!!!”. Jinki berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman preman yang memegangnya, ia mendekati Minho dan menghadang preman yang hendak menusuk pisau keperut Minho, sehingga pisau itu mengenai bagian perut Jinki. Preman itu tidak puas dengan apa yang ia lakukan, ia menghujam perut Jinki berkali-kali sampai mata Jinki melotot menahan sakit luar biasa dibagian perutnya. Kini Jinki tergeletak tak berdaya disamping tubuh Minho, perutnya masih mengeluarkan darah. Sementara kedua preman itu kabur.

”hhh..hyung”. Minho mulai sadar, ia melihat Jinki sedang sekarat disampingnya. ”hyung”. Minho panik saat menyadari banyak darah keluar dari perut Jinki.

Sekilas Minho dapat melihat Jinki tersenyum, ”kau baik-baik saja”. Katanya pelan.

”hyung..”. Minho terus memanggil.

Jinki mulai kehilangan kesadarannya, ia menatap Minho lemah sebelum matanya terpejam untuk selama-lamanya.

 

******

 

Minho berjalan menuju kamar Jinki yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.

”hyung.. Hari ini hari ulang tahunmu”. Air mata menetes dari sudut mata Minho. ”kau mau aku memasakan apa untukmu?”.

Minho menatap jam tangan yang ada digenggamannya, jam tangan pemberian Jinki. Ia terduduk lemas diambang pintu kamar Jinki, tidak sanggup menerima kenyataan bahwa si pemilik kamar sudah tidak ada didunia ini lagi.

”demi tuhan, aku merindukanmu hyung”. tangis Minho semakin kencang.

 

Terdengar suara ketukan pintu,Minho buru-buru menghapus air matanya. Begitu ia membuka pintu rumah, ia agak terkejut melihat siapa yang datang.

”hara”. Kata Minho lirih. Sejak pemakaman Jinki, Hara seperti menghilang. Ia juga sangat terpukul dengan kepergian Jinki.

”aku ingin menepati janjiku pada Jinki oppa”. Hara menyerahkan bungkusan lebar pada Minho.

”tolong pajang ini dikamarnya”.

 

Minho mengajak Hara masuk, ia membawa Hara kekamar Jinki. Minho membuka bungkusan yang dibawa Hara yang ternyata berisi sebuah lukisan wajah Jinki.

Dalam lukisan itu Jinki sedang tertawa, sampai matanya hilang dibalik matanya. Minho tersenyum memandangi lukisan itu.

”aku sudah berjanji memberikan lukisan wajahnya dihari ulang tahunnya”. Kata Hara lirih.

”kau menghilang karena membuat ini?”.

Hara mengangguk pelan, ”aku harus menyelesaikan ini tepat waktu. Ini janjiku padanya”.

Minho menatap Hara, ia menggenggam tangan Hara yang terasa dingin. ”mianhae Hara, karena keegoisanku semua ini terjadi”.

air mata menetes dari sudut mata Hara, namun bibirnya tersenyum lemah.

”aku tidak apa-apa”.

tangan Minho bergerak menghapus air mata Hara.

”boleh aku melindungimu menggantikan jinki hyung? Aku akan pastikan gadis yang dicintainya baik-baik saja”.

”dasar playboy! rupanya kau masih belum menyerah”. Hara tertawa, dan tawanya itu membuat Minho tersenyum.

”kali ini aku menempatkan diriku bukan sebagai Choi Minho si playboy, tapi sebagai adik Lee Jinki yang akan melindungi Goo Hara untuk membalas kebaikan kakakku. Aku bersedia melindungimu demi kakakku, karena aku tahu kakakku mencintaimu”.

 

Hara melayangkan pandangannya ke arah ranjang Jinki, ia menemukan benda menarik disana. Diranjang milik Jinki terdapat banyak bantal berbentuk bintang.

”itu..”.

”bantal-bantal kesayangan kakakku. Dia sangat menyukai apapun yang berbentuk bintang, karena bintang adalah..”

”Sahabatnya”.

Minho terkejut saat Hara menyelesaikan kalimatnya.

”kau tahu?”.

”Jinki oppa pernah mengatakannya pada pertemuan pertama kami”. Hara mendekati ranjang Jinki, mengambil salah satu bantal berbentuk bintang. Ia memeluknya dengan erat. ”kakakmu itu orang yang unik, aku menyukai karakternya. Dia suka membuat lelucon garing, tapi leluconnya selalu berhasil membuatku tertawa”.

”kau tertawa? Kau pasti orang pertama yang tertawa mendengar lelucon kakakku”. Minho menatap Hara tidak percaya gadis ini bisa tertawa mendengar lelucon kakaknya yang super garing.

”dia sangat bekerja keras menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya”.

”Jinki hyung memang selalu bisa dibanggakan, dia yang terbaik”. Minho tersenyum, ia merasa bangga jika membayangkan sosok Jinki.

 

Hara memandang keluar jendela kamar Jinki, tangannya masih memeluk erat bantal milik Jinki.

‘kau baik-baik disana oppa’

Ia menghela napas. Kepergian Jinki memang sangat menyakitkan bagi Hara, tapi Hara tahu ia tidak sendirian. Masih ada Minho yang berjanji akan menjaganya, dan Hara sudah berjanji dalam hati ia akan belajar mencintai Minho.

 

_end_

Iklan

12 thoughts on “Hyung, you’re the best

  1. keiriangel_ berkata:

    Omona~~~~ >.< Keren + Sediiihh banget… T^T
    Paling suka kata-kata ini deh..

    ”sejak kapan adik playboyku jadi ciut begini? Biasanya kau tidak pernah takut menyatakan cinta pada gadis manapun”.(Bener banget Onyu.. XD Minho itu Playboy kelas kakap)

    Minho mulai mengeluarkan jurus rayuan gombalnya, tapi sayangnya rayuan itu tidak mempan untuk seorang Hara. (Bagus Hara! XD jangan mau percaya sama si playboy.. :P)

    Mengapa bisa begitu kebetulan? Mengapa ia dan Minho harus mencintai gadis yang sama?. (Omo.. Omo.. TT~TT disini tuh terasa banget 'takdir' nya.. )

    ”demi tuhan, aku merindukanmu hyung”. tangis Minho semakin kencang. (Aku bakalan nangis sekencang-kencangnya kalo nyunyu bnran de*d… TTT^TTT

    Intinya Fic mu keren banget unni… XD T.O.P Share More ya~ XD

  2. myonewworld berkata:

    waw first comment ^^
    thanks ya 😀

  3. MinHara.IS.Love berkata:

    Wedeeee, sedih amat..
    Kesian dubu.. Dubu, sabar ya jeng~ emang semua ini salah si Minong… #plaakk
    Yah setidaknya endingnya, hubungan Hara sm Minho tetap baik2 sajalah…
    Well, jinki emang udh ngga ada, tp life goes on kan…
    Ga’ ada Jinki kodok pun jadi…
    mwahahahahha…
    Share more minra fic~

  4. oktaphan berkata:

    Huiks. . Si onew tewas. . . Hueheeeeeee. . Tp gpp deh. . Asal minra bersatu.
    Tp kok onew tewasny mengenaskan gtu? ? Jd ngilu ni perut. Sakiit y nyu? ? Ak mengerti pengorbananmu. Hiks. .

  5. Kezia berkata:

    huaaaaaa…….
    tega bgt deh author bikin nangis smw MVP, hiks…..hiks……
    Kok meninggalx kejam bgt sich thor? hiks….hiks……
    G tega byngin Dubu meninggalx kyk gitu *amit…..amit…….utng cuma fanfic*
    D tgu cerita lainx y thor….
    semangat TT^TT *masih sedih……..*
    Gbu -.-

  6. rhaeFISHY 이동해 berkata:

    Onra , nyu meninggal 😦
    Err , bagus!
    Hara pasti ga nyangka kalo onew-minho kakak adek u.u
    Hara sama minho aja yah, pasti minho jagain kamu kok

  7. TaeminLGD berkata:

    Aaaa si eonnie bikin aku nangis tengah malem begini T.T
    Oke Minho janji ya pokok nya kamu harus jagain Hara !! u,u MinRa Hwaiting xD

  8. dini berkata:

    waaa..onew…ceritanya menyayat hati…sedih hiks…
    idenya bagus..minho jaga hara baik-baik…

  9. Tifadut05 berkata:

    matanya hilang dibalik matanya kkkkk~ XD kasian jinki kak ._.

  10. Liamvp berkata:

    Sedih banget…jinki pake’ mati segala TT
    bagus thor ffnya

  11. wiwit pertiwi berkata:

    hiks hiks hiks..,,,, onew oppa kokk berakhir sngt tragis sich,,,!!!!!!!!!!

  12. Cicicipta berkata:

    Kyaaa comment ku kok gak masuk? -.-
    aku comment lagi deh 🙂
    aaaaa minoooong! Disini minong jadi orang ketiga yah? Aaaa kasian jinki oppa meninggal, kenapa harus meninggal TTTT-TTTT aku paling gakuat kalo baca kisah cinta yang dipisahkan karena meninggal aaaaa (jiwa melankolis)-.- Minho janji ya! Harus jaga Hara! Yeah MINRA ❤
    DAEBAK!!! Sukses bikin aku nangis 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s