my heart in love

 

 

Author : kikyuzaraaa

Cast : Goo Hara, Choi Minho, Jung Nicole

Genre : romance, friendship

 

”ketika seseorang yang kau pikir mencintaimu tapi ternyata tidak pernah melihat cintamu, apakah seperti ini rasanya?”

******

 

Aku tidak bisa mengungkapkan bagaimana bahagianya aku ketika dia. Seorang laki2 yang selama 12 tahun ini telah berhasil merebut hatiku. Memperlakukanku dengan sangat lembut, ia bahkan mengantarku sampai kerumah karena khawatir aku pulang sendiri dimalam hari.

Hari itu kami mengikuti bimbingan khusus untuk siswa kelas 12. Karena kurang puas dengan materi yang disampaikan oleh guru kami, akhirnya aku dan dia meminta waktu tambahan untuk membahas materi matematika yang begitu sulit bagi kami. Waktu berjalan cepat dan tanpa terasa hari sudah malam. Sungguh lelah juga rasanya seharian belajar. Tapi rasa lelahku terbayar oleh kehadirannya. Oleh senyumannya. Tuhan.. Aku benar2 jatuh cinta padanya. Pada Choi Minho.

“Hara, terima kasih kau sudah mau menemaniku privat tambahan hari ini. Kalau kau tidak ada mungkin aku akan menghadapi soal matematika itu sendirian”. Kata Minho begitu kami sudah sampai dirumahku. Dia tersenyum saat mengatakannya. Sungguh rasanya tidak ada yang lebih indah dari senyuman seorang Choi Minho.

“ahh.. harusnya aku yang berterima kasih. Kau sudah bersedia mengantarku pulang padahal rumahmu jauh dari sini”. Aku dapat merasakan wajahku memanas, bicara dengan Minho selalu membuatku gugup.

Kami berbincang sedikit tentang sekolah. Selalu banyak yang bisa kami perbincangkan karena kami sudah menjadi teman sejak kami SD, mungkin tuhan sengaja menjodohkan kami karena sejak SD sampai SMA kami selalu satu sekolah.

Akhirnya Minho pamit pulang, padahal aku berharap bisa melewati waktu malam lebih lama dengannya. Aku terus tersenyum sepanjang malam. Hari ini benar2 hariku dan Minho.

 

—–

 

Aku tersenyum menyapanya sebelum aku duduk ditempat dudukku yang tepat berada dibelakang tempat duduk Minho. Minho membalas senyumanku.

“Hara.. Kau ada acara siang ini?”. Tanya Minho padaku.

Aku berpikir sejenak, apa maksud minho? Mungkinkah dia..

“anni, tidak ada”. Jawabku. Hatiku harap2 cemas menantikan apa yang akan Minho katakan selanjutnya.

“maukah kau menemaniku mencari kado?”.

Minho mengajakku pergi, mencari kado? Apa aku harus senang? Mungkinkah ia sebenarnya ingin mengajakku berkencan?. Kenapa tiba2 aku jadi gugup.

“kado untuk siapa?”. Tanyaku basa basi, berusaha menyembunyikan rasa gugupku.

“someone special”. Kata Minho sambil tersenyum.

Siapa itu someone special? Aku merasa cemburu.. Siapapun dia, kuharap dia bukanlah seorang gadis yang dicintai Minho.

 

——

 

Minho memang tidak menceritakan padaku siapa someone special nya itu. Tapi aku sudah melupakannya. Mungkin aku harus berterimakasih pada orang itu, karena berkat dialah aku bisa jalan berdua dengan Minho kesebuah Mall. Tempat yang tidak pernah sekalipun kami datangi berdua setelah 12 tahun kami berteman.

Apa yang paling membuatku senang?? Minho menggandeng tanganku, ia seakan melindungiku, tidak mau aku pergi jauh darinya. Dan aku menyukai itu.

 

“mana yang bagus?”. tanya minho padaku. Ia menunjuk dua boneka ditangannya.

“hmpp.. Ini”. Aku mengambil satu boneka beruang berwarna cokelat yang menurutku sangat manis.

“baiklah aku pilih yang ini”. Minho lagi2 tersenyum padaku.

 

Setelah membeli kado, Minho mengajakku mampir ketoko buku.

“sastra.. Biasanya kau suka sastra”. Minho menunjuk bagian buku2 sastra didalam toko buku itu.

Aku memandang minho, tidak percaya ternyata ia tahu kesukaanku.

“kau tahu aku suka sastra?”. Tanyaku padanya.

“tentu saja, 12 tahun bukan waktu yang singkat untuk bisa mengenal seseorang dengan baik. Apalagi kau ini sangat mudah dibaca”.

Aku senang mendengar ucapan Minho itu. Aku senang ia mengaku bahwa ia mengenalku dengan baik.

 

Aku membaca buku2 sastra yang tersedia ditoko buku itu. Hanya melihat judulnya saja, dan hampir semuanya sudah pernah kubaca.

Mataku berkeliling mencari sosok jangkung Minho yang menghilang begitu kami masuk toko buku. Dan ternyata aku menemukannya sedang membaca buku dibagian buku2 arsitektur.

“sejak kapan kau tertarik pada arsitektur?”. Aku heran melihatnya, tidak biasanya Minho membaca buku seperti itu. Aku hanya tahu Minho sangat menyukai komik.

“ini impian terpendamku”.

“kau mau jadi arsitek?”.

Minho menatapku, ia terlihat agak malu.

“hanya kau yang tahu”.

“kenapa?”. Aku tidak mengerti.

“orangtuaku ingin aku ambil jurusan hukum”. Minho kali ini menunduk dan tidak menatapku.

Aku mengerti sekarang, dan hatiku senang karena Minho mau memberitahuku impian terpendamnya yang belum pernah ia katakan pada siapapun.

“kalau kau punya mimpi, kau harus kejar mimpimu itu”. Aku menepuk punggungnya, berusaha meyakinkannya.

“tapi orang tuaku tidak akan pernah setuju”. Katanya lirih.

“mana Choi Minho yang kukenal? Mengapa tiba2 kau jadi lemah begini?. Biasanya seorang Choi Minho itu tidak mau kalah dan sangat keras kepala. Mengapa jadi lemah begini?kalau aku jadi kau, aku akan mengejar cita2ku meskipun itu sangat sulit. Aku tidak akan menyerah begitu saja”.

Kali ini minho menatapku, ia tersenyum. “kau ternyata berbeda”. Katanya.

“eh?”.

“kau ternyata bukan Hara yang pendiam. Kau ternyata bisa banyak bicara juga”. ucapan Minho membuatku tertunduk malu. “tapi aku menyukai Hara yang seperti ini”.

aku masih tertunduk malu. Memang benar yang dikatakan Minho, aku biasanya jarang bicara. Hanya kepada Minho lah aku banyak bercerita.

“gumawo”. Ia menggenggam tangaku. “kau orang pertama yang mendukungku”.

Aku tersenyum padanya. Aku merasa senang, paling tidak ternyata hubungan kami memang sudah sangat akrab. Dan aku senang menyadari bahwa aku juga special didalam hidup Minho.

 

——

 

Besoknya.. Tentu saja aku berharap lebih baik dari hari esok. Aku mulai berharap Minho akan menyatakan cintanya padaku dengan cara romantis. Itu hal yang paling kutunggu.

Namun kenyataannya berbeda. Apa yang kuharapkan tidak terjadi. Justru semuanya berbanding terbalik dari yang kuharapkan.

 

Hari ini aku melihat raut wajah Minho sangat bahagia. Entah hal apa yang membuatnya sampai begitu terlihat bahagia. Ia menghampiriku dengan semangat.

“Hara..”. Ia menyebut namaku dengan nyaring, dan kuakui aku senang mendengarnya. “aku ingin berterima kasih padamu. Kau memilih boneka yang tepat. Dia menerimaku!!!”. Katanya girang. Aku tidak mengerti maksud pembicaraannya.

“dia siapa?”.

“dia.. Someone specialku”. hatiku sedih mendengarnya, terlebih lagi Minho terlihat sangat senang. Aku tidak mau mendengar lagi kelanjutan ceritanya, aku yakin aku pasti akan patah hati jika mendengarnya.

Aku diam saja, namun sepertinya Minho tidak menyadarinya. Ia terus saja bercerita.

“nanti sore aku akan berkencan dengannya. Dia bilang dia sangat suka kado yang kuberikan. Ini semua berkat kau Hara”. Minho mencubit pipiku dengan gemas. Ia sama sekali tidak membaca ekspresi sedih diwajahku, padahal jelas aku ingin menangis sekarang. “nanti akan kukenalkan dia padamu. Kalian pasti akrab, dia sangat baik dan ramah pada semua orang”.

Aku berdiri dari tempat dudukku. Menyingkirkan tubuh Minho yang menghalangi jalanku. Yang ingin kulakukan sekarang hanya menangis, dan aku butuh tempat dimana aku bisa bebas menangis. Aku berlari meninggalkan Minho, tidak peduli apa yang ada dipikirannya. Yang jelas air mataku sudah tidak tertahankan, aku benar2 patah hati.

 

——

 

Aku berusaha menjauhi Minho. Aku tidak mau mendengarnya bercerita tentang someone special nya. Hatiku sudah cukup sakit, dan aku tidak mau merasa sakit lagi.

Tapi seberapa keraspun aku mencoba menjauhinya, tetap saja tidak bisa. Minho selalu berada dimana aku pergi. Kelas, kantin, lapangan basket, bahkan tempat di tempat les pun aku bertemu dengannya. Dulu aku selalu senang dengan fakta bahwa Minho dan aku memang ditakdirkan berada ditempat yang sama setiap waktu, tapi sekarang aku justru berharap sebaliknya. Aku ingin jauh dari Minho.

 

“Hara!”. Minho memanggilku saat aku baru saja mau keluar dari tempat les. Aku berusaha tidak meladeninya. Tapi langkah kaki minho yang cepat berhasil menyusulku, ia memegang tanganku agar aku berhenti berjalan. “maukah kau menemaniku? Aku butuh pelajaran tambahan lagi”. Ia berbicara dengan nada biasa seakan tidak terjadi apa2. Mungkin ia memang tidak pernah melihat cintaku padanya. Ia tidak sadar ia telah menyakiti hatiku.

“please.. Temani aku ya..”. Minho terus memohon.

“sorry, tapi aku ada janji”. berusaha menghindari tatapan matanya. “aku duluan ya..”. Kataku berjalan sambil terus menunduk. Aku dapat merasakan tatapan minho, mungkin ia sekarang mulai bisa menyadari perubahan sikapku padanya.

 

—–

Brukk

 

Aku menjatuhkan tumpukan buku yang kubawa ditanganku. Dengan kesal aku berjongkok dan mulai memunguti buku2 yang berserakan itu. Lalu dia datang, hanya dari aroma tubuhnya saja aku tahu dia Minho. Ia membantuku memunguti buku2 yang berserakan itu.

“ini buku apa?”. Tanyanya padaku.

“buku milik kelas B”. Jawabku sekenanya.

“kelas B!”. Minho terdengar bersemangat. Ia lalu mencari diantara tumpukan buku itu. Entah apa yang dicarinya, tapi ia menarik satu buku dari tumpukan. “ini miliknya”. Katanya sambil menunjukan buku itu padaku. Disampul buku itu tertulis.

 

Nicole Jung

 

Jadi someone special yang Minho maksud itu adalah Nicole murid kelas B. Aku memang tidak terlalu mengenal Nicole. Tapi aku tahu Nicole adalah salah satu murid yang cukup populer dan ia juga masuk kedalam team basket andalan sekolah. Pantas kalau Minho menyukainya. Nicole sangat berbeda denganku, ia jauh lebih pantas untuk Minho dibandingkan denganku. Dan aku mengakui fakta itu.

 

——

 

Aku tahu Minho benar2 menyukai Nicole. Itu semua terlihat dari cara Minho tersenyum setiap kali menyebut nama Nicole.Beberapa kali aku memergoki Minho sedang mengawasi Nicole yang sedang bermain basket. Tatapannya sungguh berbeda, dan aku tahu itu tatapan sayang.

 

Aku berusaha bersikap biasa. Tapi tetap saja aku tidak bisa. Hati ini tidak mau diajak berdamai kalau urusan cinta. Mungkin rasa cintaku pada Minho memang sudah sangat besar sehingga aku sulit berdamai dengan hatiku sendiri.

 

Hal tersulit dan termenyakitkan yang kuterima dari Minho adalah ketika ia mengatakan bahwa dirinya dan Nicole sudah resmi berpacaran. Seperti ada pukulan berat dihatiku. Aku menangis semalaman karena hal itu. Minho sampai saat ini belum sadar bahwa ia telah menyakiti hatiku.

 

——

Aku mulai disibukan dengan berbagai kegiatan pra ujian. Formulir pendaftaran universitasmu mulai menyita perhatianku.

Suatu hari aku sedang duduk sendiri didalam kelas. Lalu aku melihat Minho juga sedang duduk dibangku yang terletak persis didepanku. Ia menatap formulir pendaftaran universitasnya, tapi sama sekali tidak menyentuhnya. Aku menupuk pundaknya, ia berbalik dan menatapku.

“kenapa?”. Ia bertanya padaku. Suaranya terdengar lemas.

“aku yang harusnya bertanya. Kau kenapa?”.

Minho membalikan kepalanya, ia menatap formulir yang diletakan dimejanya.

“kau masih bingung soal jurusan ya?”.

Minho tidak menjawab. aku paham, mungkin Minho masih bergelut dengan hatinya. Impiannya terbentur oleh keinginan kedua orangtuanya. Aku benar2 merasa kasihan pada Minho yang pasti sedang merasa terkekang.

“kau harus berani menyuarakan pilihanmu! Lagipula kalau kau melakukan apa yang orangtuamu inginkan belum tentu hasilnya akan baik, kau hanya akan melakukannya dengan setengah hati”.

Minho menengok lagi kearahku, kali ini ia menatapku.

“apa kau yakin aku pantas meraih impianku?”.

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya.

”Choi Minho yang kukenal bukanlah orang pesimis. Tapi kenapa kau jadi berubah? Kau pasti bisa Minho, itu impianmu dan kau harus mengejarnya”.

“tapi..”

“bicarakan pada orangtuamu. Mereka pasti mau mendengarkan pilihanmu, kau harus yakin pada dirimu sendiri kalau kau mau orang lain juga yakin padamu”.

Minho terus menatapku. Mungkin aku akan bahagia karena ia terus menatap langsung kemataku, tapi jika teringat Nicole hatiku langsung ciut kembali.

“gumawo”. Katanya pelan. “aku beruntung bisa mengenalmu”. Ia tersenyum padaku. Kali ini aku berusaha meyakinkan diriku bahwa itu hanyalah senyuman seorang sahabat.

 

Besoknya, aku kaget saat Minho tiba2 memelukku erat. Tapi aku diam saja, walaupun sebenarnya aku malu karena orang2 memperhatikan kami.

“kau kenapa?”. Tanyaku dalam pelukannya.

“aku berhasil meyakinkan orangtuaku, dan mereka setuju aku mengambil jurusan arsitektur. Ini semua karenamu Hara. Aku berhutang banyak padamu..”.

Aku lega mendengarnya, aku senang melihat minho bahagia.

“terima kasih”. Ia berbisik ditelingaku.

 

——

 

Waktu terus berputar berjuanganku melewati ujian akhir sekolah tiba pada puncaknya. Hari ini adalah penentuan kelulusan. Aku gugup, tapi aku tidak sendirian. Ada Minho disini menemaniku. Kami bergandengan tangan, bersama2 melangkahkan kaki menuju papan pengumuman yang memajang hasil ujian akhir kami.

Kami berdua bersorak gembira saat membaca nama kami tertera dipapan tersebut. Kami berpelukan, menangis karena bahagia. Dalam kebagian itu, aku menyadari sesuatu. Aku akan segera kehilangan separuh hatiku. Minho akan pergi keluar kota, ia akan keluah disana. Meninggalkanku..

 

Hari itu tiba, hari dimana Minho akan pergi. Dan aku tidak sanggup mengucapkan kata pisah. Aku mengurung diri dikamar, tidak mau menemui siapapun. Dan Minho benar2 pergi.

Kapan aku bisa bertemu denganmu lagi?

Aku tidak terbiasa sendiri. Tahun2 yang kulewati bersamanya sungguh berbekas. sekarang aku sendiri, tidak ada lagi Choi Minho yang biasanya kutemui kemanapun aku pergi.

 

Minho sering menelponku, bercerita tentang kehidupannya dikota barunya dan tentang bagaimana ia sangat bersemangat mempelajari arsitektur. Aku senang mendengarnya, tapi ada bagian dari cerita Minho yang paling tidak ingin aku dengar. Yaitu bagian dimana Minho bercerita tentang Nicole, tentang bagaimana rasanya menjalani hubungan jarak jauh dengannya. Sedih.. Mungkin itu perasaanku saat mendengarnya bercerita tentang Nicole.

 

Aku mulai mencoba berpacaran. Ada kakak kelasku diuniversitas yang menyatakan cintanya padaku. Namanya Lee Jinki, ia sangat baik padaku. Aku menerima cintanya. Hanya sekedar pengisi hatiku yang kosong karena kepergian Minho. Tapi itu tidak bertahan lama. kami putus hanya dalam waktu 3 bulan.

 

—–

Aku mendengar pintu rumahku diketuk. Dan aku tebelalak saat mendapati Minho berdiri didepan pintu rumahku. Aku langsung berhambur memeluknya. Aku merindukannya.. Sangat.

“apa kau rindu padaku?”. Tanyanya sambil tersenyum.

“sangat!”.

Aku melapaskan pelukanku, kuperhatikan wajahnya. Tidak banyak berubah, hanya saja ia terlihat lebih tampan dan dewasa dibanding terakhir kali aku melihatnya.

“hara.. apa kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu pergi”.

“kemana?”.

“membeli kado untuk someone special”.

Lagi2.. Nicole. Kenapa sih Minho tidak pernah menyadari bahwa aku tersakiti dengan sikapnya yang seperti ini.

Tapi aku tidak bisa menolak, aku terlalu merindukan Minho. Aku ingin lama bersamanya. Jadi kuputuskan menerima ajakannya.

 

“kau suka yang mana?”. Minho memberiku pilihan, ada 2 bantal berbentuk hati ditangannya yang satu berukuran lebih kecil dan yang satunya lagi berukuran besar.

“yang kecil”. Jawabku asal.

Minho meminta pelayan membungkus kado tersebut. Dan aku iri pada Nicole, ia beruntung bisa memiliki Minho.

 

Minho mengantarku pulang, dan Aku benar2 kaget saat Minho memberikan kado yang tadi dibelinya kepadaku.

“happy birthday”. Kata Minho sambil tersenyum. “aku tahu aku telat. Tapi aku ingin memberikan yang special untukmu”.

“tapi ini..”. Aku ingin mengatakan ‘ini bantal hati, tidak pantas aku menerima ini’ tapi kata2 tersebut urung aku katakan.

“mianhae Hara. Aku buta selama ini, aku tidak menyadarinya”. Minho menatapku tajam.

“maksudmu?”.

“aku mencintaimu Hara. Aku tersadar bahwa sebenarnya bukan Nicole yang aku butuhkan, aku membutuhkan seorang gadis penyemangatku. Itu kau.. Goo Hara”.

“kenapa?”. Air mataku menetes. Mungkin aku terlalu senang mendengar pengakuan cinta Minho.

“12 tahun bukan waktu yang singkat untuk membuatku mencintaimu. Aku tidak sadar selama ini aku mencintaimu, sampai akhirnya kita dipisahkan oleh jarak. Dan sekarang aku sadar betul aku mencintaimu”.

“nicole?”. Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirku.

“aku sudah putus dengannya”. Minho menggenggam tanganku, matanya masih menatapku tajam. “jadi apa kau juga mencintaiku?”.

“12 tahun bukan waktu yang singkat untuk mencintai seseorang. Iya, aku mencintaimu”. Aku menuduk saat mengatakannya, aku malu.

Minho menarikku kedalam pelukannya. Hatiku lega, akhirnya perasaan cintaku tersampaikan. Kini aku dan Minho sama2 telah mengungkapkan perasaan kami. Persaan seorang sahabat yang berkembang menjadi benih cinta.

 

_end_

Iklan

9 thoughts on “my heart in love

  1. widia berkata:

    wuahhhh daebak.. keren2.. happy ending bwt hara n minho yg mengharukan,, hmpir nangis ngebaca na..

  2. rhaeFISHY 이동해 berkata:

    Nyesek baca awalnya , itu si minho sama cole ;A; selalu cole huhu T.T
    Tapi akhirnya happy ending -(‾▿‾)/* *\(‾▿‾)-
    Minra FTW! Yuhu~

  3. MinHara.IS.Love berkata:

    Akhirnyaa ada jg fic MinRa yg hapy ending..
    Kebanyakan baca broken MinRa mulu dimana-mana…
    Hara baek yah… sabar bgt gtu nungguin minong..
    Untung akhirnya si Minho nyadar juga..
    Coba kalo ga.. mo sampe kapan sakit hatinya…
    Share more Minra yahh…
    Hwaiting~

  4. liya tiya berkata:

    good fanfic…love minra

  5. Dhe berkata:

    Hemph.. mulai darimana, ya? Saking penasaran sama ff kakak, aku baca 😀 Karena dasarnya aku suka baca ff juga, ff apapun. Dan pas aku baca ff ini.. sweet. Simple aja ceritanya. Aku suka Hara yang sekuat apapun nutupin perasaan sukanya ke Minho dan dia berusaha tegar waktu Minho jadian ama Nicole. Aku paling suka dibagian ini: “12 tahun bukan waktu yang singkat untuk mencintai seseorang. Iya,aku mencintaimu.” :”> Aih kesannya…. aku spikles dikata-kata Hara yang itu.

    Dan–ada typos, yang kurasa enggak begitu mengganggu seperti pengulangan kata yang pakai angka ‘2’ ; sama2.

    Udah ah, keep writing 🙂

  6. _biepearl berkata:

    nice one kak 😀
    si minho ga peka bgt ya kak disini , tapi aku sukanya dia ga cuek , si minho mau aa skinship sama hara ;]
    keep writing kak 😉

  7. dini berkata:

    sweet story…setelah penantian cukup lama akhirnya jadi juga…congrats ya minra…

  8. nyesek bener pas baca pertama-tamanya.. minho minho gabisa apa ngebaca perasaan cewek? U.U
    tapi terakhirnya happy ending!!! muahhhh minra xD

  9. Cicicipta berkata:

    Kyaaaaa sempet ngenes, miris, kasian, sakit, jleb, nangis, sedih, nyesek banget aaaaa gabisa diungkapin kata kata deh kasian banget Hara cintanya bertepuk sebelah tangan hiks 😦 tapi akhirnyaaaaa HAPPY ENDING!! Yeaaaaah!! *tumpengan* (?) makasih udah bikin ceritanya happy ending aaa suka bangetsss >< MINRA ❤
    oh iya, sebelumnya aku readers baru, Cici imnida 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s