You’re my eyes (happy birthday KeyBum)

 

Fanfic spesial Happy Birthday KeyBum untuk merayakan ultahnya si almighty Key ^^

Happy bday Key..

 

Author : kikyuzaraaa

Cast : Key/kim kibum, Nicole, Onew/lee jinki

Gender : romance, sad, angst

 

-onew pov-

Perlahan kulihat kibum membuka matanya. Aku menantikannya dengan cemas.

“kibum”. Aku memanggil namanya. Kibum mengedipkan matanya, memejamkannya lalu membukanya lagi.

“hyung, ini dimana? Mengapa semuanya gelap?”. Kata kibum padaku.

Aku tidak bisa bicara apa2. tidak tega mengatakan kepadanya bahwa sekarang ia buta.

“hyung…”. Kibum memanggilku lagi. Ia mulai meraba2 sekitarnya. “hyung aku kenapa?”. Tanyanya lagi.

“kibum.. Tenanglah”. Aku mendekatinya.

“hyung.. Mataku kenapa?”.

“kecelakaan itu membuat matamu buta kibum”. Kataku pelan, sungguh tak tega mengatakannya.

 

-kibum pov-

“kecelakaan itu membuat matamu buta kibum”. Kata onew hyung pelan.

“jadi sekarang aku buta?”. Kataku mulai terisak. Tuhan.. Mengapa kau lakukan ini padaku.

“kibum”. Onew hyung memelukku.

“hyung lepaskan! Aku ingin mati saja”. Aku mulai memberontak. Onew hyung tetap tidak melepaskan pelukannya. “bagaimana bisa seorang pelukis buta? Aku tidak mau hidup lagi!”. Kataku berteriak.

“kibum tolong jangan katakan itu, kau satu2nya yg kumiliki didunia ini”. Bisik onew hyung ditelingaku, ia berusaha menenangkanku.

“hyuuunngg.. Aku tidak mau buta”. Kataku sambil terus terisak.

 

——

aku masih meratapi nasibku. hidupku sudah hancur seperti tidak punya masa depan. Cita2ku menjadi seorang pelukis kandas sudah.

Onew hyung terus memberiku dukungan, tapi tetap saja tidak bisa meringankan kesedihanku.

 

“hyung, kaua tidak kerja?”. Tanyaku pada onew hyung. Dari kemarin ia terus berada disampingku. Harusnya onew hyung bekerja sebagai guru seni disebuah sanggar seni. Onew hyung adalah seorang pematung yg namanya cukup terkenal.

“aah, annio. Aku cuti, kalau perlu aku akan keluar dari pekerjaanku, aku ingin menemanimu kibum”. Katanya.

“andwae!! Tidak boleh hyung. Kau harus kerja, kita mau makan apa kalau kau tidak kerja?”. Aku berkata tegas padanya. Aku tidak ingin nasib onew hyung sama sepertiku. Ia harus melanjutkan cita2nya.

“lalu siapa yg akan mengurusimu kibum?”.

“aku bisa sendiri. Aku sudah besar hyung!”.

“baiklah kalau begitu, tapi kau tidak boleh sendirian. Aku akan carikan perawat untukmu”. Katanya.

 

-Onew pov-

Aku memperhatikan seorang gadis yang berdiri didepanku. Ia bersedia menjadi perawat kibum. sepertinya ia gadis baik2, wajahnya cantik dan penampilannya menarik

 

“kau harus ingat, kibum itu keras kepala jadi kau harus sabar menghadapinya”. Kataku padanya.

Gadis itu menatapku, “aku mengerti, tenang saja”. Katanya meyakinkan.

 

Kubawa gadis itu menemui kibum yg baru pulang dari rumah sakit. Ia sedang duduk dikamarnya sambil memegang kuas yg biasa ia gunakan ditangannya. Wajahnya terlihat sedih.

“kibum”. Aku memanggilnya, ia menengok mencari sumber suaraku. “kubawakan seseorang yg akan menjagamu selama aku bekerja”. Kataku.

Gadis perawat itu menghampiri kibum. Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum bersemangat.

“Jung nicole imnida”. Katanya.

Kibum yg tidak melihat uluran tangan nicole tidak membalasnya. Tapi nicole menarik tangan kibum, dan mereka bersalaman.

“kim kibum”. Kata kibum pelan.

“baik2lah kalian berdua”. Kataku lalu berlalu pergi meninggalkan mereka berdua dikamar.

 

—–

-Nicole pov-

 

Wajah pemuda didepanku ini tampan, walaupun terlihat jutek. Ia menggenggam kuas ditangannya, entah untuk apa.

 

Tanpa dipersilakan olehnya, aku duduk disampingnya.

“jadi kau suka melukis?”. Tanyaku padanya.

“hmmp”. Jawabnya.

“apakah lukisan2 dikamar ini kau yang melukisnya?”. Aku memperhatikan didalam kamar ini banyak sekali lukisan2 dengan gaya abstrak maupun realitis. “lukisannya bagus”. Kataku, pemuda itu tidak menghiraukan perkataanku.

“kau mau makan tidak?”. Tanyaku padaku, sadar bahwa sekarang sudah jam makan siang.

Lagi2 pemuda bernama kibum itu diam.

“kau kenapa daritadi diam saja?”.

“kau cerewet sekali!!”. Kibum membentakku.

“itu tugasku, menemanimu agar tidak bosan”. Aku bangkit berdiri, menarik tangan kibum agar berdiri juga. “ayo makan”.

Kibum tidaka bergeming, ia tetap duduk ditempatnya.

“atau mau kubawakan makanannya kesini?”. Tanyaku, kibum tidak menjawab. “kalau kau diam saja, berarti iya”.

 

Aku berjalan keluar mengambil makanan untuk kibum. Tadinya aku berpikir untuk memasakkannya sesuatu, tapi ternyata dimeja makan sudah ada ayam goreng. Mungkin onew oppa yg memasaknya sebelum berangkat kerja.

 

Aku menyuapi kibum, tapi ia tidak mau membuka mulutnya.

“ayo dong. Aaaaaaa”. Kataku sambil menabrak2an sendok yg terisi makanan didepan mulut kibum yg tertutup. “ini masakan kakakmu loh. tega sekali kalau kau tidak memakannya”.

Kibum tidak bereaksi ia tetap diam.

“ayolah kibum buka mulutmu”. Aku mulai tidak sabar.

BRAKKKKKKK

Kibum menepis sendok ditanganku dari depan mulutnya, ia juga meraba dan mengambil piring ditanganku lalu melemparnya. Kamarnya yang semula bersih jadi kotor karena pecahan piring dan makanan yg berceceran.

“Ya!! Kau kenapa sih?”. Aku membentaknya. “kalau kau tidak mau makan tidak usah seperti ini. Kalau kakakmu tahu ini hanya akan menyakitinya kibum”.

“aku benci padamu!!! Pergi.. Jangan kembali kesini lagi”. Kibum berteriak padaku.

Sebagai perawat, aku sudah terbiasa menghadapi orang seperti dirinya. Jadi aku tidak tersinggung, aku malah membereskan pecahan piring dan makanan yg berserakan dikamar kibum.

 

—–

-kibum pov-

 

gadis bernama nicole itu tidak tersinggung dengan ucapanku, kudengar ia malah membereskan pecahan piring yang berserakan dikamarku.

Aku diam saja, malas berbicara dengannya.

 

“jadi sekarang apa maumu kibum?”. Tanyanya tiba2.

“aku mau kau pergi”. Kataku padanya.

“lalu setelah itu apa? Kau akan mati pelan2 dengan tidak mau makan? Kudengar dari kakakmu kau bahkan tidak menyentuh makanan sejak dari rumah sakit”.

Aku meringis, aku memang ingin mati. Tidak ada yang bisa kuharapkan lagi dari hidupku yang seperti ini.

“kenapa diam saja?”. Ia bertanya lagi.

Kurasakan air mataku mulai menetes. Bayangan saat aku sedang melukis berkelebat dikepalaku. Aku masih ingin menjadi pelukis, tapi dengan kondisiku sekarang hal itu sangat mustahil.

“tidak ada lagi yang bisa aku harapkan didunia ini”. Kataku sambil terisak. “cita2ku menjadi pelukis sudah kandas. jadi untuk apa aku hidup?”.

Kurasakan nicole mendekat, ia berdiri dihadapanku.

“kau pernah dengar tentang Esref Armagan? Pelukis yang buta sejak ia lahir. Bahkan ia belum pernah melihat dunia, tapi karyanya sungguh luar biasa”. Nicole memegang tanganku. “kau tetap bisa menjadi pelukis kibum, asalkan kau mau berusaha. Kau harus bangkit dari keterpurukanmu”.

Ucapan nicole menyadarkanku, ia benar banyak orang cacat yang sukses menggapai cita2nya dengan segala usahanya. Mengapa aku tidak bisa seperti mereka.

“kau harus terus hidup. Ingatlah juga bahwa kakakmu sangat menyayangimu”. Nicole menarik tanganku dan menaruh sebuah kuas ditanganku. “selama kau masih bisa memegang ini. Cita2mu menjadi pelukis belum kandas”.

Nicole benar, aku harus tetap berusaha menggapai cita2ku, aku masih punya onew hyung yang menyayangiku.

 

—–

Onew hyung baru pulang kerumah malam hari, ia mengajakku duduk diruang tengah, katanya ada hal penting yg ingin dibicarakan.

Ia bilang ia akan pergi ke amerika untuk mengikuti acara seminar seni disana dengan seniman2 terkenal dunia .

“aku minta ijinmu kibum. Kalau kau tidak mengijinkan aku tidak akan pergi”. Katanya.

Aku menggeleng. “kau harus pergi hyung. Ini kesempatan langka”.

“lalu kau bagaimana?”. Tanyanya pelan.

“jangan khawatirkan aku. Ada nicole yang akan menemaniku”. Kataku.

“baiklah kalau begitu, gumawo kibum”. Onew hyung mendekatiku lalu memelukku.

 

—–

besok paginya onew hyung pamit padaku. Aku meyakinkannya bahwa aku akan baik2 saja bersama nicole. Nicole sendiri selalu berada didekatku, ia tidak pernah meninggalkanku.

 

Setelah onew hyung pergi, aku kembali kekamarku dibantu nicole.

“hari ini apa yang ingin kau lakukan?”. Tanya nicole padaku.

“entahlah, mungkin hanya diam dikamar”.

“membosankan sekali. Kita pergi saja kibum”.

“mwo? Bagaimana bisa? Dengan membawa2 tongkat ini? Aku tidak mau!!”. Kataku sambil menunjukan tongkat ditanganku. Sejak aku buta aku selalu membawa tongkat untuk membantuku berjalan.

Nicole merebut tongkat dari tanganku, lalu ia membuangnya.

“kau tidak usah bawa tongkat, ada aku sebagai penunjuk jalanmu, aku akan menjadi matamu”. Katanya terdengar bersemangat.

 

Aku menurut pada nicole. Ia menggandeng tanganku menuntunku pergi.

“ini dimana?”. Tanyaku saat ia menyuruhku duduk. Aku dapat mendengar suara2 mesin disekitarku.

“didalam bus”. Katanya, nicole duduk disamping.

“gila!! Kenapa sampai naik bus? kalau onew hyung tahu ia bisa memarahimu karena membawaku pergi jauh”. Kataku agak berteriak.

“onew oppa tidak akan marah asal kau tidak macam2. Pokoknya kau jangan lepaskan tanganku”. Nicole mempererat genggaman tangannya pada tanganku.

“okey cerewet!”.

 

—–

-nicole pov-

 

Aku membawa kibum pergi ke namsan tower. Tempat dimana kita bisa melihat seluruh pemandangan kota seoul yang indah.

angin diatas menara namsan cukup kencang, aku merapatkan syal dileher kibum agar ia tidak kedinginan. Tangan kami masih saling bergandengan.

“angin? Ini dimana?”.

“namsan tower”. Jawabku.

“untuk apa membawaku kesini, aku bahkan tidak bisa melihat pemandangannya”. Katanya.

Aku memukul pundak kibum

“YA!!! Paling tidak kau bisa menikmati udara bebas ini kibum!”.

“okeoke.. Terserah kau sajalah”. Katanya.

Diam2 aku mengeluarkan sebuah kamera dari tasku.

‘cepreet’

Aku mengambil fotoku bersama kibum yang sedang cemberut. Kibum tidak sadar bahwa aku mengambil fotonya. Aku tersenyum melihat layar kameraku, kibum terlihat lucu, ia tidak menatap kamera tapi ekspresi cemberutnya membuatku geli.

“apa yang sedang kau lakukan?”. Tanya kibum padaku. Ia berusaha meraba2 kearah depannya.

“sedang tersenyum”. Jawabku. Kibum berhasil menggapai pagar pembatas menara yang berada didepannya.

“mwo? apa yang membuatmu tersenyum?”.

“kau”. Jawabku jujur, masih dengan senyumanku.

“kenapa aku?”.

“entahlah mungkin aku mulai menyukaimu”. Jawabku sambil tertawa.

“aissshh.. Kau berusaha menggodaku hah?”.

“terserah kau sajalah”. Aku menghentikan tawaku. “ngomong2 ulang tahunmu tanggal berapa?”.

“24 september”.

“wah, sekarang sudah bulan september, berarti sebentar lagi. Kau mau kado apa dariku?”.

Kibum terdiam dan menunduk, “aku tidak ingin apa2. Kalau ada sesuatu yang kuinginkan saat ini adalah bisa melihat kembali. Tapi sepertinya itu sangat mustahil”.

Aku terdiam mendengar ucapan kibum.

 

—–

 

Setelah puas menikmati udara dan pemandangan diatas menara namsan, aku membawa kibum kerestoran yang letaknya dibawah menara.

“mau makan apa?”. Tanyaku padanya.

“terserah kau”.

“hmmp baiklah 2 bulgogi kalau begitu”. Kataku pada pelayang restoran.

 

Kibum tidak bisa memakan bulgoginya, jadi aku menyuapinya.

“apa orang2 memperhatikan kita?”. Tanya kibum padaku dengan bulgogi memenuhi mulutnya.

Aku menengok kearah sekitar, beberapa pengunjung memang sedang memperhatikan kami.

“anni”. Jawabku berbohong.

“baguslah”. Katanya masih terus mengunyah.

“kau merasa risih ya kalau ada memperhatikanmu?”.

“tentu saja, dengan keadaanku seperti ini”.

“aissshh.. Tidak ada yang salah denganmu kibum!”.

“kau.. Apakah tidak bosan terus menemaniku?”. Tanyanya pelan. Aku memperhatikan wajah kibum. Mana mungkin aku bisa bosan berada didekatnya, sepertinya aku mulai menyukai kibum.”YA!! Jawab aku!!”. Kibum membentakku.

“kalau kau terus membentakku seperti tadi mungkin aku akan bosan”.

“kalau begitu aku tidak akan membentakmu lagi. Tetaplah berada disampingku nicole, karena kaulah penunjuk jalanku”.

Aku menggenggam tangan kibum yang ada di atas meja.

“tentu saja kibum”. Jawabku.

 

—–

aku dan kibum semakin dekat. Kami sering tertawa bersama, kibum jarang sekali membentakku, ia sekarang lebih banyak tersenyum daripada marah2.

“nicole-yaa.. Bolehkah aku memegang wajahmu. Aku ingin tahu bentuk wajahmu”. Kata kibum pada suatu malam saat aku sedang menemaninya dikamar sambil bercerita tentang pengalamanku sebagai perawat.

“apa kau ingin melukis wajahku?”. Kataku sambil tersenyum, aku menarik tangan kibum, menaruhnya dipipiku. Pelan2 kibum mulai meraba wajahku. Sentuhannya sangat lembut membuat jantungku berdetak lebih kencang setiap merasakannya.

“aku tidak pernah melukis wajah wanita”. Katanya, ia masih meraba wajahku.

“kenapa?”.

“wanita yang nanti akan kulukis untuk pertama kalinya adalah wanita yang paling kucintai didunia ini”. tangan kibum berhenti dihidungku. “ngomong2, hidungmu mancung juga ya?”.

aku tertawa mendengarnya, karna sebelumnya kibum belum pernah memujiku.

“apa nanti aku akan bisa melihat lagi? Aku ingin melihat senyumanmu nicole”. Kibum menarik tangannya dari wajahku. Aku diam saja, bingung harus menjawab apa.

“sudah malam kibum, lebih baik kau tidur”. Kataku sambil membantu kibum berbaring dan menarik selimut menutupi setengah tubuhnya.

 

—–

Pagi2 sekali aku sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk kibum. Onew oppa masih berada diamerika, ia baru akan pulang besok.

Kriiiiinnngggg

Telepon diruang tengah berbunyi, segera aku mengangkatnya.

“nicole-ssi..”.

“onew oppa?”.

“apa kibum sudah bangun?”. Suara onew oppa terdengar diujung telepon.

“belum”.

“hari ini adalah jadwalnya check up di rumah sakit. Bisakah kau membawanya?”.

“ne, tentu bisa”.

“mungkin agak susah membujuknya kerumah sakit. tapi tolong bujuk dia”.

“ne, arraseo”.

“baiklah, gumawo nicole-ssi”.

“ne”.

 

—–

aku membangunkan kibum sambil membawakan sarapan paginya. saat aku masuk kamarnya, kibum masih tertidur dibawah selimutnya.

“kibum, bangun”. Aku mengguncang tubuhnya agar bangun.

“hmmmpp…”. Kibum menguap lalu membuka matanya, tidak sulit untuk membangunkan kibum. “rasanya selalu seperti ini. selalu gelap, seperti masih dialam mimpi”. Ia berkata pelan.

aku mengelus rambutnya yang berantakan dengan lembut, “mau sarapan dulu atau mandi dulu?”.

“sarapan saja dulu”.

“baiklah, setelah itu baru mandi dan bersiap2 kerumah sakit”.

“mwo?? Ngapain kerumah sakit?”.

“kau ada jadwal check up hari ini. Onew oppa tadi menelpon memberitahuku”.

“aku tidak mau, percuma!! Tidak akan bisa merubah keadaanku”. wajah kibum terlihat putus asa.

“hanya untuk memeriksa tubuhmu paska kecelakaan. Ini penting kibum, onew oppa sampai menelpon dari amerika hanya untuk menyuruhku membawamu kerumah sakit”.

“baiklah”. Kata kibum akhirnya, “tapi aku punya satu permintaan?”.

“apa?”

“aku ingin makan es krim”. Kata kibum.

aku tertawa mendengarnya.

“Ya!! Kenapa tertawa?”.

“kau lucu sekali seperti anak kecil saja”.

 

selesai sarapan, kibum lalu mandi, sementara aku sendiri mengganti pakaianku untuk pergi kerumah sakit.

kami pergi kerumah sakit dengan taksi. Begitu sampai disana, seorang suster langsung membawa kibum ke ruang check up. Hanya butuh waktu 30 menit untuk melakukan pemeriksaan pada kibum. Setelah itu dokter memanggil kami. Tapi kibum menolak saat kuajak keruang dokter, jadi ia menunggu didepan sementara aku masuk keruangan dokter.

“tubuhnya baik2 saja. Yang dikhawatirkan ternyata tidak terjadi. Kondisinya normal”. Kata dokter padaku.

“hmmp.. Apakah kibum akan bisa melihat kembali?”.

“asalkan ada yang mendonorkan kornea mata untuknya”.

aku tertegun mendengar ucapan dokter. didunia ini, sulit sekali mencari pendonor kornea mata.

 

—–

 

-kibum pov-

Onew hyung akhirnya kembali dari amerika. ia membawakan banyak oleh2 untukku dan nicole. Sepertinya ia bahagia disana karena bertemu dengan seniman2 terkenal dunia. Onew hyung sangat beruntung, tidak seperti aku.

 

“onew oppa, kibum.. mianhae. Aku tidak bisa menemani kibum lagi”. Kata nicole tiba2. Membuatku kaget.

“wae?”. Tanyaku, “kau sudah janji nicole!”.

“mianhae, aku tidak bisa menepati janjiku”.

“jadi kau mau berhenti dari pekerjaanmu?”. Kudengar onew hyung bertanya pada nicole.

“ne.. Mian”.

“tapi kenapa?!!”. Aku berteriak, tidak terima nicole akan meninggalkanku. “apa kau bosan merawatku?”.

“anni, tapi aku benar2 tidak bisa lagi”. Suara nicole terdengar serak seperti menangis.

“kami tidak bisa memaksamu”. Kata onew hyung.

“pergilah!!! Aku tidak mau melihatmu lagi nicole!!!”. Aku berteriak, kecewa pada keputusan nicole meninggalkanku.

 

Nicole benar2 pergi. Ia bahkan tidak pamit padaku, ia hanya pamit pada onew hyung. Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengannya. Padahal kemarin kami masih baik2 saja.aku menaruh harapan besar padanya, tadinya kupikir nicole akan selamanya menemaniku, menjadi perawatku. Ia sudah berjanji padaku. Tapi kenapa ia sekarang justru meninggalkanku. Aku benci padanya.

 

—–

-onew pov-

 

aku berteriak kegirangan membaca surat dari rumah sakit. Ada seseorang yang bersedia memberikan kornea matanya untuk kibum. Sungguh ini suatu keajaiban.

“kau tidak bercanda kan hyung? Jadi aku akan bisa melihat lagi?”. Kibum seperti ingin menangis karena bahagia.

“ne.. Tentu saja. kita harus kerumah sakit sekarang. Kajja..”. Kataku sambil membantu kibum bersiap2.

 

—–

Kibum mulai membuka matanya. Dokter telah membuka perbannya, dengan tegang aku menunggu reaksinya.

“hyung..”. Ia melihat kearahku. “aku bisa melihatmu”. Kibum bicara sambil terisak saking bahagianya.

“terima kasih tuhan”. Aku memeluk adikku. Akhirnya penderitaan kibum sudah berakhir.

 

—–

-kibum pov-

 

akhirnya aku bisa kembali melihat dunia. Wajah pertama yang kulihat adalah wajah onew hyung. Aku benar2 merindukan wajah itu.

Tapi rasanya ada yang kurang, aku ingin bertemu nicole, Aku ingin melihat wajahnya. aku telah mencoba untuk membencinya dan melupakannya, tapi ternyata aku tidak bisa. Aku terlalu merindukannya.

“nicole, kau dimana sekarang?”. Kataku pada diriku sendiri.

 

Karena bosan terus berada didalam kamar rawat, akhirnya kuputuskan untuk pergi berjalan2 kesekitar rumah sakit.

Saat sampai dikoridor, aku melihat serombong dokter dan suster berjalan cepat menuju salah satu kamar rawat dengan berbagai peralatan medis.

Aku mengintip kedalam ruang rawat itu. didalam dokter dan suster sedang melakukan pertolongan pada seorang gadis yang sepertinya sedang sekarat. Wajah gadis itu pucat sekali, tapi tetap terlihat cantik.

“satu..dua..tiga.. Clear!”. kata dokter sambil memegang alat picu jantung.

“tidak ada reaksi”. Suster yang memantau lewat monitor berkata pada dokter.

“jung nicole, wafat pada pukul 16.00”.

DEG..

Apa aku tidak salah dengar. “nicole???”. Aku berteriak, membuat para suster melihat kearahku. “dia jung nicole?”. Tanyaku pada mereka.

“siapa pemuda itu?”. Tanya dokter.

“dia kim kibum, pasien yang mendapatkan kornea mata dari jung nicole”. Kata salah seorang suster.

Aku makin tidak percaya. Nicole yang mendonorkan kornea matanya untukku.

Aku menghampiri tubuh nicole yang sudah tidak bernyawa.

“ANDWAE!!! Nicole.. Kau sudah janji akan selalu menemaniku. Bangun nicole.. Bangun!!!!”. Aku mengguncang tubuh nicole sambil berteriak. Seorang suster menghampiriku, berusaha menenangkanku. ” kenapa dia bisa seperti ini????”. Tanyaku pada dokter.

“nicole-ssi mendonorkan kornea matanya untukmu. Padahal ia punya penyakit jantung, saat operasi dilakukan jantungnya menolak reaksi dari obat bius. Sebelum operasi pihak rumah sakit sudah memberitahunya, tapi ia tetap mengambil resiko, karena ia ingin sekali mendonorkan kornea matanya untukmu”. Kata dokter itu.

Aku memandangi wajah nicole, baru pertama kali aku melihatnya. Aku bahkan belum pernah melihatnya tersenyum.

“kibum-ssi.. aku menemukan ini diatas meja. Mungkin nicole-ssi menaruhnya sebelum operasi”. Salah seorang suster memberikanku sebuah amplop yang bertuliskan namaku. Aku mengambilnya dengan tangan bergetar.

Suster dan dokter keluar dari ruang rawat nicole, meninggalkanku dengan tubuh nicole yang sudah tidak bernyawa.

Aku membuka amplop itu, ada surat didalamnya. Saat aku membuka lipatan surat itu, selembar foto terjatuh. Aku memungutnya, dalam foto itu ada aku yang sedang cemberut, tidak menatap kamera dan nicole yang tersenyum pada kamera dengan tangannya membentuk V .aku yakin foto ini diambil saat kami berada dinamsan tower, ternyata saat itu diam2 nicole mengambil foto kami.

Lalu aku mulai membaca surat dari nicole.

 

Dear Kim Kibum

 

Hai kibum ^^

Aku tahu kau akan bisa membaca surat ini, aku tahu kau akan bisa melihat kembali.

satu pesanku, tolong jangan menangis kibum saat membaca surat ini. Aku mengawasimu, awas saja kalau kau menangis!!!

Pertama, aku ingin minta maaf. Aku pergi tanpa pamit, mungkin kau membenciku karna aku meninggalkanmu secara tiba2. Aku harus melakukan ini kibum. Jeongmal mianhae..

Apakah operasi itu nanti akan sakit? Apakah mati itu mengerikan?

tapi kau tidak usah khawatir, sekarang aku tidak merasakan sakit lagi. Aku lebih baik disini ^^

 

kedua, saat aku tahu kau bisa melihat lagi asal ada yg mau memberimu kornea mata, aku merasa wajib memberikan korneaku untukmu jika aku sudah tidak membutuhkannya. Dan sekarang saat kau baca surat ini, aku sudah tidak butuh kornea mataku lagi kibum. Jadi kuberikan korneaku padamu, aku tahu kau membutuhkannya. Hmmp saat kau membaca surat ini apakah ulang tahunmu sudah terlewat?. Bisakah kau anggap ini sebagai kado ulang tahunmu? Aku merasa bersalah karena tidak sempat menyiapkan kado apapun untukmu.

 

Ketiga, kibum kau tahu apa yang sangat kuharapkan didunia ini?? Aku berharap akulah gadis beruntung yang wajahnya kau lukis diatas kanvasmu. Aku mencintaimu kibum, jeongmal saranghaeyo.

Aku menyelipkan foto kita dalam surat ini. Kau tahu kapan foto itu diambil? Aku mengambilnya diam2 saat kita berada dinamsan tower. Paling tidak kau jadi bisa tahu wajahku. Bagaimana wajahku? Apa mengecewakanmu??. Kuharap kau menyimpan foto ini baik2.

 

Apakah surat ini terlalu panjang?? Entahlah aku tidak bisa menyingkatnya, aku benar2 harus menyampaikan semuanya padamu.

Saranghae kim kibum. Jaga dirimu baik2, aku akan selalu melihat bersamamu kibum .

 

Jung Nicole

 

 

Aku meringis membaca surat nicole. Gaya bicaranya didalam surat ini benar2 seperti nicole yang biasanya. Aku bisa membayangkan kecerian diwajahnya saat ia sedang tersenyum, seperti dalam foto.

Aku menatap tubuh yang sudah ditutupi kain didepanku. Kubuka sedikit agar aku bisa melihat wajah nicole.

“nicole,gumawo. Ini adalah kado ulang tahun yang sangat berharga seumur hidupku”. Bisikku sambil menahan tangis. “jeongmal saranghaeo nicole”.

 

—–

Aku tidak menghadiri pemakaman nicole, aku tidak sanggup melihatnya. Aku malah pergi ke menara namsan, tempat dimana nicole pernah membawaku dulu.

Angin di atas menara namsan masih sama seperti terakhir kali saat aku datang bersama nicole, anginnya masih kencang.

kupejamkan mataku, dan kuhirup udara yang sejuk itu dalam2.

“nicole, aku rindu pada suara cerewetmu”. Kataku dalam hati.

“kibum!!! Rapatkan syalmu!! nanti kau masuk angin”. Aku seperti berhayal mendengar suara nicole, aku membuka mataku, aku melihat sosok nicole berdiri disampingku sambil tersenyum.

“nicole”. Aku tersenyum, berusaha memegangnya. Tapi sosok nicole justru menghilang. Ternyata aku hanya berhalusinasi.

 

—–

Aku memandangi lukisan wajah nicole yang baru saja kubuat.

“lihatlah nicole, aku melukis wajahmu. Apa kau suka?”. Kataku sambil tersenyum pada lukisan wajah nicole yang juga tersenyum padaku.

“jeongmal saranghae”. Bisikku.

 

 

-end-

Iklan

2 thoughts on “You’re my eyes (happy birthday KeyBum)

  1. shin hyun-rim berkata:

    so sad…
    Crita bgus,,,
    key nya buta,,ngak ngbyngn gmana frustsinya…
    Pertm bc,smpt mikir nicole it udh jd ce nya,tp trnyata jd perawat nya..

    Kshn nicole’a nicole meningall..pgn mrka brg truz,tp ngak pa la akhr nya mrka brsatu tp dgn cra bgtu….

  2. VayTeuKey berkata:

    yah kok nicole x mati. sdh bgt. tp gpp ada aq yg akan slalu menemanimu key. haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s